Notification

×

Iklan

Iklan

Fenomena Siang Panas Terik dan Malam Datang Hujan, Begini Kata Peneliti

Rabu, 15 Mei 2024 | 11:58 WIB Last Updated 2024-05-15T04:58:34Z
Ilustrasi cuaca | pixabay 


Fenomena panas terik saat siang hari dan hujan turun ketika malam atau pun dini hari adalah indikasi musim transisi.

"Jadi semakin terik suhu umumnya diikuti hujan di malam hari, walaupun sifat hujannya tidak sebesar pada umumnya saat musim penghujan. Ini adalah indikasi yang biasa terjadi akhir musim transisi pertama," kata Peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan, Selasa (14/5) dikutip dari Antara.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau tahun ini terjadi secara bertahap sejak Mei hingga Agustus 2024. Puncaknya diprakirakan terjadi pada Juli dan Agustus.

BMKG menyatakan panas terik kali ini adalah gejala pancaroba, bukan imbas heatwave atau gelombang panas seperti yang sedang melanda negara-negara Asia lainnya.

"Memang betul, saat ini gelombang panas sedang melanda berbagai negara Asia, seperti Thailand dengan suhu maksimum mencapai 52 derajat Celcius," ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam sebuah keterangan, Senin (6/5) dilansir CNN.

"Namun, khusus di Indonesia yang terjadi bukanlah gelombang panas, melainkan suhu panas seperti pada umumnya," lanjutnya. 

"Periode peralihan ini umumnya dicirikan dengan kondisi pagi hari yang cerah, siang hari yang terik dengan pertumbuhan awan yang pesat diiringi peningkatan suhu udara, kemudian terjadi hujan pada siang menjelang sore hari atau sore menjelang malam hari," paparnya.

Senada, Eddy menuturkan gelombang panas menerpa kawasan atau negara yang didominasi oleh daratan, seperti India, Thailand, negara-negara Afrika, hingga Brasil.

Sementara, posisi geografis Indonesia yang terdiri dari dua pertiga laut dan sepertiga daratan, lima pulau besar, dengan total 17.548 pulau. Masing-masing pulau ini menghasilkan konveksi (pembentukan awan hujan) lokal dan konveksi regional.

"Alhasil kawasan Indonesia relatif aman dari bahaya gelombang panas," jelas Eddy.

Dia mengaku belum mengetahui secara pasti kapan puncak panas terik ini akan segera berakhir.

Jika menganalisis perilaku Indian Ocean Dipole (IOD) yang berpusat di Samudra Hindia, ia menyebut kondisi panas di kawasan barat Indonesia dan kawasan Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa terjadi sejak April dan terus merangkak hingga mencapai puncak pada Juli.

Hal ini diperparah dengan mulai berhembusnya angin timuran yang bergerak melintasi kawasan Indonesia seiring dengan bergeraknya posisi Matahari meninggalkan garis ekuator sejak 21 Maret, bergerak semu menuju belahan bumi utara.

"Jadi, ada indikasi kuat jika kondisi panas ini akan terus berlanjut," kata Eddy.

Selain itu, katanya, ada kondisi angin timuran (Angin Monsun Australia) yang berasal dari gurun di bagian utara Australia yang sudah mulai merangkak memasuki kawasan Indonesia.

'Gerbang utama' yang akan menerima angin penanda musim kemarau ini adalah kawasan Nusa Tenggara Timur, diikuti Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, dan seterusnya.

Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini