Notification

×

Iklan

Iklan

Demokrat Tembus 250 Kursi DPR AS, Pemilih Hispanik Balik Arah Tinggalkan Trump

Jumat, 06 November 2026 | 18:58 WIB Last Updated 2026-11-06T11:58:18Z
Peserta mendengarkan pidato para pembicara pada reli Voto Latino di Weslaco, Texas, untuk kandidat Demokrat Gina Hinojosa sebagai gubernur, James Talarico sebagai Senat AS, dan Bobby Pulido sebagai DPR AS pada 25 Oktober menjelang pemilu sela | foto: Michael Gonzalez/AP

Kabar Center
Washington - Partai Demokrat terus memperlebar keunggulan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat dalam Pemilu Sela 2026. Hingga Jumat pagi, Demokrat telah melampaui 250 kursi setelah berhasil merebut sejumlah kursi penting, termasuk di Ohio, Arizona, dan North Carolina.

Kemenangan besar ini disebut sebagai gelombang biru yang menyapu Kongres. Bahkan Senator Ted Cruz menyebut hasil pemilu ini sebagai penolakan setingkat Watergate terhadap Partai Republik.

Kekalahan telak Partai Republik pada Selasa malam disebut-sebut dipicu oleh kemarahan besar warga Hispanik Amerika. Mereka tercatat datang ke tempat pemungutan suara dalam jumlah rekor di sejumlah negara bagian kunci sebagai bentuk protes terhadap kebijakan anti-imigran pemerintahan Trump yang menyerang komunitas mereka.

“Trump melawan kami,” kata Benny Melendez dari Weslaco, Texas. “Dia menjadikan kami target operasi ICE, jadi kami memutuskan untuk menghukumnya dengan memilih melawan partainya. Itulah yang terjadi," demikian dikutip dari The Guardian, Jumat (06/11).

Melendez, pemilik perusahaan pembangunan rumah kecil di Texas Selatan, mengaku memilih Donald Trump pada pemilu presiden dua tahun lalu. Saat itu ia tertarik dengan janji Trump untuk mengamankan perbatasan Meksiko dan memperbaiki ekonomi. Namun pada Selasa lalu, ia memilih Demokrat sebagai luapan kemarahan.

Dua sepupunya dan hingga 15 pekerja bangunannya telah ditangkap dan dideportasi ke Meksiko oleh ICE. Ketika memilih Trump pada 2024, ia mengira razia imigrasi hanya akan menyasar mereka yang memiliki catatan kriminal, bukan kerabat dan karyawannya.

“Mereka mengambil tetangga kami. Mereka mengambil teman-teman kami. Mereka mengambil pekerja kami, dan mereka mengambil anggota keluarga kami. Ini adalah serangan terhadap komunitas kami.”

Kemarahan Melendez yang juga dirasakan jutaan orang di Texas, Florida, dan negara bagian kunci lainnya itu menceritakan sebuah kisah. Hal itu menunjukkan bagaimana Trump pertama kali merayu, lalu kemudian mengasingkan dukungan banyak pemilih Latino, yang pada akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.