![]() |
| Presiden Amerika Serikat Donald Trump | net |
Kabar Center
MEDAN - Amerika Serikat memasuki detik-detik krusial Pemilu Sela atau Midterm Election 2026 yang akan digelar Selasa, 3 November 2026 waktu setempat.
Pemilu kali ini akan menjadi penentu peta kekuasaan di Washington untuk dua tahun terakhir masa jabatan Presiden Donald Trump.
Seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR AS) dan 35 dari 100 kursi Senat akan diperebutkan. Saat ini, Partai Republik masih menguasai kedua kamar, dengan komposisi Senat 53 berbanding 47 untuk Demokrat.
Presiden Trump sendiri tancap gas di akhir kampanye. Dalam unggahannya di media sosial Truth Social pada Senin (20/10) malam waktu setempat, Trump mengumumkan telah menyiapkan dana lebih dari 400 juta dolar AS untuk mendukung kandidat Republik.
"Lebih dari 300 Juta Dolar telah dihabiskan untuk Iklan, Kontak Pemilih Langsung dan Tidak Langsung, Reli, Program Get Out the Vote, dan lainnya. Ini adalah Pemilu Sela Paling Penting dalam Sejarah Negara Kita," tulis Trump dalam unggahan tersebut.
Pernyataan itu muncul di tengah tren jajak pendapat yang menunjukkan penurunan kepuasan publik. Sejumlah survei nasional, termasuk Reuters/Ipsos dan New York Times, mencatat tingkat persetujuan terhadap Trump berada di kisaran 31 hingga 40 persen jelang pemungutan suara, level terendah dalam 80 tahun terakhir untuk seorang presiden jelang midterm.
Di lapangan, Trump menggelar safari politik maraton 32 hari. Pada akhir pekan ini, ia dijadwalkan berkampanye di Iowa dan Kansas, dua negara bagian yang selama ini menjadi basis Republik namun kini menunjukkan persaingan ketat.
Sementara itu, lembaga pemantau pemilu Cook Political Report mencatat ada lebih dari selusin daerah pemilihan yang bergeser condong ke Demokrat dalam sepekan terakhir.
Antusiasme pemilih juga meningkat. Data hingga Minggu (1/11/2026) mencatat lebih dari 52 juta warga AS telah menggunakan hak pilihnya lebih awal.
Hasil pada Selasa besok akan sangat menentukan arah pemerintahan Trump di dua tahun terakhir.
