Notification

×

Iklan

Iklan

Aksi Protes Biaya Hidup di Jerman Ricuh, Sejumlah Toko di Frankfurt Dijarah

Minggu, 01 November 2026 | 09:29 WIB Last Updated 2026-11-01T02:29:29Z
Penjarahan sejumlah toko di Frankfurt | Reuters

Kabar Center
FRANKFURT - Aksi protes biaya hidup di Jerman berujung ricuh pada Sabtu (31/10) malam. Sejumlah toko di Frankfurt dijarah dan bentrokan pecah di beberapa kota lain setelah aksi massa yang sebelumnya berlangsung damai.

Kericuhan juga terjadi di Berlin, Cologne, dan Hamburg. Polisi menyebut menggunakan meriam air untuk membubarkan massa yang menyerang petugas dengan kembang api, batu, dan botol.

Ribuan orang sebelumnya mengikuti aksi demonstrasi yang digagas kelompok kampanye Gen Z regelt yang berarti Gen Z mengambil alih. Aksi tersebut digelar untuk memprotes kurangnya pendanaan sekolah, tingginya biaya hidup, pemotongan anggaran publik, dan wajib militer.

Kerusuhan di Jerman ini menyusul aksi serupa yang dipimpin anak muda di Prancis, di mana lebih dari 320.000 orang juga berdemonstrasi pada Sabtu.

Otoritas di Frankfurt, Munich, dan Berlin melaporkan jumlah peserta mencapai 18.000 orang, atau sekitar setengah dari perkiraan yang disampaikan penyelenggara di situs mereka.

Juru bicara Gen Z regelt, Lina Friedrich, mengatakan demonstrasi digelar untuk memperjuangkan perdamaian dan kebebasan, bukan untuk perang dan pemaksaan.

"Yang paling penting bagi kami adalah dukungan yang lebih baik untuk sistem kesehatan dan pendidikan. Kami menentang wajib militer dan mendukung distribusi beban yang lebih adil," ujarnya.

Meski aksi pada siang hari berlangsung relatif damai, situasi berubah ricuh saat malam tiba.

Melalui unggahan di X, kepolisian Frankfurt menyebut kerusuhan terjadi di pusat kota. Jendela sejumlah toko dihancurkan dan bom molotov dilempar ke arah petugas.

Dalam pembaruan berikutnya, polisi menyebut jendela sebuah toko senjata dirusak dan dua senjata disita setelah menangkap seorang tersangka.

Menteri Dalam Negeri negara bagian Hesse, Roman Poseck, menyebut sekitar 100 orang yang teridentifikasi sebagai ekstremis sayap kiri menyusup ke dalam aksi di Frankfurt. Ia menilai sangat memalukan bagaimana aksi tersebut berakhir.

"Kita semua memiliki gambaran dari Prancis dalam pikiran kita, penjarahan, rumah yang dibakar, kendaraan polisi yang dibakar, dan serangan terhadap petugas polisi. Prancis tidak boleh dijadikan contoh dalam hal ini," kata Poseck.