Notification

×

Iklan

Iklan

Pemilu Paling Berpengaruh dalam Sejarah Israel, Netanyahu Tantang Mantan Panglima Militer

Selasa, 27 Oktober 2026 | 13:39 WIB Last Updated 2026-10-27T06:39:58Z
Layar di Tel Aviv menampilkan Benjamin Netanyahu, kiri, dan pesaing utamanya, kandidat oposisi Gadi Eisenkot, menjelang pemilihan umum Israel pada hari Selasa | Foto: David Goldman/AP

Kabar Center
Tel Aviv - Israel menggelar pemilihan umum pada Selasa (27/10), yang menjadi pemilu pertama sejak serangan Hamas 7 Oktober 2023. Serangan yang menewaskan sekitar 1.200 orang itu menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel.

Sejak itu, Israel melancarkan perang besar di Gaza, dua kali berkonflik terbuka dengan Iran, dan meningkatkan operasi di Tepi Barat. Di dalam negeri, koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai melemahkan lembaga demokrasi termasuk Mahkamah Agung.

Netanyahu yang telah memimpin Israel 19 dari 30 tahun terakhir kembali maju bersama koalisi sayap kanan jauh. Selain isu politik, pemilu ini juga personal baginya karena ia sedang menjalani sidang korupsi. Kekalahan bisa meningkatkan risiko penjara.

Ia ditantang Gadi Eisenkot, mantan kepala militer dan pendatang baru di politik. Putra imigran Maroko itu kehilangan putra dan dua keponakannya dalam perang Gaza pada 2024. Ia memimpin partai baru bernama Yashar yang berarti Kejujuran, dan memposisikan diri sebagai antitesis Netanyahu.

Isu utama pemilu adalah keamanan, mengalahkan isu biaya hidup. Oposisi menyoroti kegagalan intelijen pada 7 Oktober, pelemahan demokrasi, dan biaya perang multi-front. Mereka menjanjikan komisi penyelidikan untuk tragedi 7 Oktober dan penghapusan pengecualian wajib militer bagi pria ultra-Ortodoks.

Sementara kubu Netanyahu mengklaim hanya dirinya yang berpengalaman menjaga keamanan. Ia bahkan sempat mengunggah gambar AI bom nuklir menghantam Tel Aviv dengan narasi agar pemilih berpikir ulang memilih oposisi. Sekutu sayap kanannya mendorong perluasan permukiman dan pengambilalihan Gaza dan Tepi Barat.

Survei menunjukkan koalisi Likud terancam kehilangan mayoritas. Tren penurunan dukungan sudah terjadi dua tahun terakhir. Oposisi memang unggul secara jumlah, namun terpecah antara blok partai Yahudi Israel pimpinan Eisenkot dan partai yang mewakili warga Palestina berkewarganegaraan Israel. Blok Yahudi menolak koalisi formal dengan partai Palestina, namun partai Palestina membuka opsi mendukung pemerintahan minoritas demi menjegal Netanyahu.

Knesset memiliki 120 kursi dengan sistem proporsional dan ambang batas 3,25 persen. Presiden akan menunjuk partai dengan kursi terbanyak untuk membentuk koalisi. Exit poll keluar pukul 22.00 waktu Israel, namun hasil final bisa lebih dari sehari karena nasib dua partai kecil penentu - Amcha Yisrael pimpinan Ofer Winter yang pro-Netanyahu, dan The Reservists yang menolak bergabung dengan ultra-Ortodoks maupun partai Palestina - masih di ambang batas.

Dari 15 juta orang di bawah kendali Israel, hanya 7 juta Yahudi Israel dan 1,7 juta warga Palestina berkewarganegaraan Israel di dalam garis hijau pra-1967 yang punya hak pilih penuh, ditambah 500 ribu pemukim di Tepi Barat dan 230 ribu di Yerusalem Timur. Sementara 3,1 juta warga Palestina di Tepi Barat, 350 ribu di Yerusalem Timur, dan 2 juta di Gaza tidak memiliki hak pilih.