Dokter Yang Mengkritik Lockdown dan Vaksin Meninggal Karena Covid-19

G.M
Sabtu, 01 Mei 2021, 20:10 WIB Last Updated 2021-05-01T13:10:10Z
Stephen Karanja

Kabar Center - Jakarta

Seorang dokter kenamaan yang menentang vaksin virus corona dan pernah mengkritik penerapan lockdown atau karantina wilayah di Kenya meninggal dunia setelah mengidap Covid-19.

Stephen Karanja, meninggal dunia hari Kamis (29/04) saat dirawat di satu rumah sakit swasta di ibu kota Kenya, Nairobi. Semasa hidupnya, Dr Karanja merupakan ketua asosiasi dokter Katolik Kenya. 

Di organisasi ini, dia digambarkan sebagai "dokter pejuang sejati". Dia tidak setuju dengan suntikan vaksin untuk menekan pandemi Covid-19 dengan mengatakan "vaksinasi sama sekali tak diperlukan".

Penyebaran Covid-19, menurutnya, bisa ditekan "cukup dengan mengenakan masker".

Media di Kenya melaporkan, Dr Karanja yang merupakan dokter spesialis kandungan menuduh pemerintah "tidak mengeluarkan informasi yang akurat terkait infeksi Covid-19".

Ia mengeklaim Covid-19 bisa diatasi dengan "obat biasa dan murah yang tersedia di pasar". Selain itu, ia menyebut, Covid-19 "bisa dilawan dengan menghirup uap air".

Pemerintah kataya, "bisa mencegah orang-orang jatuh sakit, bisa menekan anggaran, dan bahkan mencegah kematian seandainya memanfaatkan obat-obat preventif ketika melawan Covid-19".

Namun klaim ini dengan cepat dibantah oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Konferensi Uskup Katolik Kenya (KCCB).

Dalam satu pernyataan, KCCB mengatakan, "Kami ingin menekankan bahwa vaksin Covid-19 sangat penting untuk melindungi kita semua, selain [protokol kesehatan] seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan mengenakan masker."

Mereka mengklaim Dr Karanaja "keliru dan menyebabkan ketidakpastian".

Dalam video yang beredar di media sosial pada akhir Maret, Dr Karanja mengkritik penerapan lockdown atau karantina wilayah di lima wilayah di Kenya.

Dokter itu mengklaim bahwa karantina wilayah "tidak efektif dari sisi medis".

"Ketika Anda mengkarantina orang, Anda sebenarnya tidak sedang mengatasi penyakit. Ini tak berguna, berbahaya, dan harus dicabut sesegera mungkin," ujar Dr Karanja seperti dikutip media Kenya.

Dr Karanja juga dikenal sebagai pendukung teori konspirasi bahwa pandemi Covid-19 "sengaja disebar sebagai alat untuk mengurangi jumlah penduduk". (Kc4/*)


Baca juga:

Komentar

Tampilkan

Terkini

PERISTIWA

SOSIAL

+