![]() |
| Mantan pemain bola basket Serbia Dejan Bodiroga, kandidat dari Student List, merayakan kemenangan setelah Aleksandar Vučić mengakui kekalahan di Beograd, Serbia. Foto: Petr David Josek/AP |
Kabar Center
BEOGRAD - Pemimpin Serbia Aleksandar Vucic mengakui kekalahan dalam pemilu parlemen bersejarah, Minggu (25/10/2026). Kekalahan ini menandai pergeseran politik besar setelah 12 tahun berkuasa, di mana ia harus berhadapan dengan gerakan yang dipimpin mahasiswa.
Vucic menyampaikan pengakuan kekalahan di markas partainya di Beograd, merujuk pada hasil hitung cepat.
"Kita belum memiliki hasil final. Berdasarkan sampel... jelas bahwa kami kalah dalam pemilu ini, Student List menang, mereka akan memiliki antara 135 dan 140 kursi dan kami akan memiliki 105," kata Vucic kepada para pendukungnya.
Lembaga jajak pendapat CeSID-IPSOS memperkirakan Student List akan meraih 138 kursi, sementara Partai Progresif Serbia (SNS) milik Vucic yang berhaluan kanan hanya meraih 104 kursi. Sisa kursi diperkirakan akan dibagi di antara partai-partai etnis minoritas.
Kabar tumbangnya kekuasaan Vucic langsung disambut pesta di jalanan Beograd dan kota-kota lain.
Suasana di ibu kota pecah. Klakson mobil bersahutan, warga saling berjabat tangan, tos, hingga memeluk polisi yang berjaga. Di markas Student List, pendukung meneriakkan "Kemenangan, kemenangan!" sambil berpelukan dan menangis haru.
"Wahai Serbia, malam ini suara rakyat didengar. Malam ini kita merayakan kemenangan, besok kita membangun masa depan," kata Radomir Saicic, profesor Universitas Beograd yang berbicara atas nama mahasiswa.
Partisipasi Pemilih Tertinggi Sejak 1992
Pemilu kali ini mencatat partisipasi tertinggi sejak pecahnya Yugoslavia pada 1992. Antrean panjang mengular di TPS dengan waktu tunggu hingga dua jam. Hingga pukul 19.00 waktu setempat, tingkat partisipasi mencapai 67,6%.
Tingginya partisipasi ini sejalan dengan besarnya dukungan publik. Pekan lalu, sekitar 150.000 orang memadati rapat akbar terakhir Student List di Beograd.
Kemenangan gerakan mahasiswa ini menjadi sorotan dunia. Hasil ini dinilai akan bergema ke seluruh Eropa dan menambah momentum protes pemuda dan mahasiswa yang mengguncang berbagai kota di benua itu.
Pengakuan kekalahan Vucic yang cepat ini mengingatkan pada sekutunya, Viktor Orban di Hungaria, yang juga kalah enam bulan lalu. Hal ini memunculkan harapan kebangkitan demokrasi di Eropa Tengah.
Berawal dari Tragedi Novi Sad
Pemilu sela yang berisiko tinggi ini berakar dari tragedi November 2024, ketika kanopi beton di Stasiun Kereta Api Novi Sad runtuh dan menewaskan 16 orang. Tragedi itu memicu protes mahasiswa yang kemudian membesar menjadi gerakan anti-pemerintah, setelah muncul bukti bahwa konstruksi yang buruk, penipuan, dan korupsi menjadi penyebabnya.
Di tengah tekanan, Vucic yang semakin otoriter memutuskan mengundurkan diri dari kursi kepresidenan bulan lalu dan berjudi dengan menggelar pemilu sela.
Mahasiswa memanfaatkan momentum itu. Mereka mengumumkan daftar 250 calon untuk 250 kursi parlemen, mulai dari akademisi, atlet, hingga petani, dengan slogan "Serbia atau Mafia?".
Mereka harus bertarung melawan mesin politik SNS yang hampir menguasai semua saluran siaran dan menggunakan kementerian serta institusi negara sebagai alat politik.
Selama kampanye, Vucic berulang kali mencoba melemahkan mahasiswa dengan menuduh mereka sebagai boneka kekuatan asing, tuduhan yang dibantah mahasiswa. Ia juga menjanjikan kenaikan pensiun dan gaji sektor publik serta menampilkan diri sebagai pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan diplomasi antara Barat, Rusia, dan China.
Sementara itu, mahasiswa turun ke jalan, menggelar rapat akbar, masuk ke daerah pedesaan yang selama ini menjadi basis kuat Vucic, dan melakukan kampanye dari pintu ke pintu.
"Hari ini, di atas segalanya, Serbia berjuang untuk kebebasan dan untuk mengembalikan negara yang telah dibajak," kata Dejan Bodiroga, calon dari Student List dan Presiden Euroleague Basketball, saat memberikan suara di Beograd.
Menjelang pemungutan suara, pemantau pemilu internasional dan lokal sempat menyuarakan kekhawatiran soal penahanan, pengawasan, dan serangan siber terhadap aktivis. Pada hari pemungutan suara, kelompok pemantau independen CRTA melaporkan adanya kasus pemotretan surat suara yang mengindikasikan adanya tekanan pada pemilih, upaya jual beli suara, hingga praktik coblos keliling.
