![]() |
| Petugas kepolisian Prancis menangkap seorang pengunjuk rasa dalam demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan pemotongan layanan publik di Paris. Foto: Yoan Valat/EPA |
Kabar Center
Paris - Sehari setelah kerusuhan nasional, Prancis masih mencekam. Pemerintah pada Senin malam (19/10) resmi memperluas jam malam di Paris, Nice, Lyon, hingga Bordeaux setelah demonstrasi biaya hidup berujung penjarahan besar-besaran.
Kerusuhan yang terjadi pada 17-19 Oktober tercatat sebagai yang terburuk sejak 2023. Lebih dari 550 ribu orang turun ke jalan, namun aksi damai itu ditunggangi kelompok anarkis yang menjarah sekitar 3.000 toko dan membakar fasilitas publik.
Pernyataan Mendagri Prancis. Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengkonfirmasi jumlah penahanan. Ia mengatakan, "Saat ini, 2.513 orang telah ditahan," kepada stasiun TF1 pada 19 Oktober. Nunez menambahkan lebih dari 500 orang akan segera disidang dan 67 orang sudah dijebloskan ke penjara.
Ancaman status darurat dari PM. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menggelar rapat krisis Senin sore dan tidak menutup kemungkinan langkah lebih keras. Lecornu menegaskan, "Saya bertekad penuh untuk memulihkan ketertiban. Jika diperlukan, saya akan melakukannya."
Ia juga menjelaskan alasan pemerintah memilih jam malam dibanding status darurat. Menurutnya, "Namun, untuk saat ini, penerapan jam malam tampaknya lebih sesuai dengan situasi yang mungkin kita hadapi."
Lecornu mencoba menenangkan publik yang panik melihat tayangan televisi. Ia berkata, "Saat menonton televisi, masyarakat Prancis mungkin mendapat kesan bahwa kekacauan terjadi di mana-mana. Untungnya, kenyataannya tidak demikian. Gangguan tersebut sangat terkonsentrasi di pusat-pusat perkotaan."
Wali Kota Nice angkat bicara. Wali Kota Nice, Eric Ciotti, menjelaskan alasan jam malam khusus anak di bawah umur. Ciotti menyebut, "Kami melihat adanya gerombolan perusuh yang berkeliaran di jalanan pada akhir pekan lalu."
Kecaman Presiden Macron. Presiden Emmanuel Macron yang akan lengser enam bulan lagi mengecam keras aksi tersebut dalam pidato televisi Minggu malam. Macron menyatakan, "Tidak ada yang membenarkannya, tidak ada yang menjelaskannya, tidak ada yang memaafkannya."
Hingga Selasa pagi, jam malam masih berlaku di kawasan Place de la République dan Les Halles Paris pukul 23.00-06.00. Museum Louvre juga masih tutup akibat blokade mahasiswa.
