![]() |
| Foto ilustrasi |
Kabar Center
Samosir - Mau ke mall, bangun kesiangan pun tetap bisa jalan. Baju asal comot, rambut asal sisir, berangkat.
Tapi giliran mau ke gereja hari Minggu, rasanya seperti mau pindahan rumah. Dari mulai bergegas hingga berjalan menuju gereja. Baju yang kemarin masih bagus tiba-tiba terasa tidak layak pakai. Anak yang biasanya mandiri tiba-tiba susah bergerak gegara kecanduan gadget dan yang lainnya. Sepatu dan peralatan lainnya tak berada di tempat. Kunci motor lupa taruh di mana.
Akhirnya sampai di gereja dengan waktu yang telat, dan hati yang dongkol. Bukannya dapat berkat, malah bernaung emosi.
Kalau itu yang kamu rasakan, kamu tidak sendirian. Dan itu bukan sekadar soal manajemen waktu.
1. Karena Musuh Tidak Ingin Kamu Sampai ke Gereja
Jujur saja, tidak ada iblis yang sibuk menghalangi orang pergi ke mal. Tapi ketika kamu memutuskan untuk beribadah, ada peperangan yang terjadi.
Roh memang penurut, tetapi daging lemah. Tiba-tiba rasa malas jadi dua kali lipat. Tiba-tiba masalah kecil jadi besar. Tiba-tiba pasangan atau anak anak atau sebaliknya pemicu pertengkaran tepat 30 menit sebelum ibadah.
Kerepotan itu seringkali bukan kebetulan, tapi pengalihan. Tujuannya satu: supaya kamu batal, atau kalaupun datang, hatimu sudah terlalu capek untuk menyembah. Bayangkan perasaan dongkol namun tetap ibadah?
2. Kita Terlalu Sibuk Melayani Penampilan, Bukan Tuhan
Kita sering tanpa sadar menjadikan hari Minggu sebagai ajang peragaan busana rohani.
Harus cantik. Harus rapi. Anak harus matching. Rambut harus sempurna. Kalau tidak, rasanya tidak layak masuk ke rumah Tuhan.
Padahal Tuhan tidak pernah minta kamu datang dengan baju baru. Dia hanya minta kamu datang.
Kita yang membuat standar itu terlalu tinggi, lalu kita sendiri yang kelelahan mengejar standar itu. Akhirnya yang kita layani bukan Tuhan, tapi gengsi kita sendiri.
3. Kita Gagal di Sabtu Malam
Orang yang repot di Minggu pagi adalah orang yang lalai di Sabtu malam.
Coba jujur, jam berapa kamu tidur di Sabtu malam? Apakah Sabtu malam kamu pakai untuk persiapan ibadah, atau untuk scroll HP sampai jam 1 pagi, nonton drakor, nongkrong sampai larut?
Pergi ke gereja tidak dimulai di Minggu pagi. Pergi ke gereja dimulai di Sabtu jam 9 malam.
Alkitab yang tidak disiapkan dari malam, baju yang belum disetrika, persembahan yang masih harus dicari recehannya di pagi hari - semua itu adalah bibit kekacauan untuk esok harinya.
4. Karena Kamu Berjuang Sendirian
Ini yang paling melelahkan.
Di banyak keluarga, hanya satu orang yang punya beban untuk ke gereja. Istri yang membangunkan suami. Mama yang mengejar-ngejar anak. Satu orang menjadi alarm, manajer, dan penggerak untuk semua.
Wajar kalau capek. Kamu bukan hanya mengurus dirimu sendiri, kamu menggendong iman orang serumah.
Lalu Harus Bagaimana?
Tuhan tidak mencari ibadah yang sempurna, Dia mencari hati yang mau datang.
Minggu depan, coba ubah strateginya:
1. Selesaikan Perang di Sabtu Malam Sebelum tidur, bereskan semua. Baju untuk sekeluarga gantung di depan. Sepatu jajar rapi. Alkitab dan persembahan sudah di dalam tas. Kunci kendaraan sudah di tempatnya. Tidur lebih awal.
2. Beri Jeda Satu Jam
Pasang alarm satu jam lebih awal dari biasanya. Jangan langsung sibuk. Duduk dulu 5 menit. Berdoa: "Tuhan, hari ini aku mau bertemu dengan-Mu. Apapun yang terjadi pagi ini, aku tetap akan datang."
3. Izinkan Tidak Sempurna
Tidak apa-apa datang dengan baju yang itu-itu saja. Tidak apa-apa rambut anak masih agak berantakan. Lebih baik datang apa adanya daripada tidak datang karena mau sempurna.
Berangkat ke gereja memang akan selalu ada repotnya. Karena setiap langkah menuju hadirat Tuhan memang harus diperjuangkan.
Tapi percayalah, repot 1 jam di Minggu pagi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan damai sejahtera yang akan kamu bawa pulang untuk 6 hari ke depan. Haleluya.
