Notification

×

Iklan

Iklan

Empat Wartawan Jakarta ke Pusuk Buhit, Pesan Oscar Habeahan Menggugah Batin

Minggu, 18 Oktober 2026 | 20:50 WIB Last Updated 2026-10-18T13:50:10Z

Kabar Center -Samosir 
Perjalanan spiritual tidak selalu berakhir pada doa dan keheningan. Terkadang, sebuah perjumpaan justru meninggalkan pesan yang menggugah hati tentang keberanian menyuarakan kebenaran, ketulusan menolong sesama, dan pentingnya menyiapkan diri menghadapi ketidakpastian hidup.

Pesan itulah yang mengemuka ketika empat wartawan asal Jakarta, James Tobing, Tubagus Adhi, Edison Siahaan, dan Dar Edi Yoga, bertemu dengan tokoh spiritual Oscar Habeahan di Partukkoan, Pulau Samosir, Jumat (16/10/2026).

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan spiritual mereka ke kawasan Danau Toba pada 16-17 Oktober 2026. Selain berdiskusi dengan Oscar, keempat wartawan mengunjungi Air Terjun Tiga Rasa, Istana Raja Sisingamangaraja, dan Batu Sawan. Perjalanan kemudian berlanjut ke Pusuk Buhit pada Sabtu pagi untuk berdoa bersama.

Di tengah suasana yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, percakapan mereka menyentuh berbagai persoalan kehidupan, spiritualitas, dan masa depan Indonesia. Salah satu pesan yang paling kuat adalah ajakan untuk menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

*Berani Mengatakan Kebenaran*

Dalam pertemuan itu, Oscar Habeahan menekankan pentingnya keberanian untuk mengatakan kebenaran dan membantu sesama tanpa pamrih.

Pesan tersebut sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijalankan. Mengatakan kebenaran terkadang menuntut keberanian menghadapi tekanan, sementara menolong tanpa pamrih membutuhkan ketulusan untuk memberi tanpa menghitung keuntungan yang akan diterima.

Dalam kehidupan sosial yang kerap diwarnai kepentingan, pesan itu mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh kedudukan atau pengakuan, melainkan oleh integritas dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Bagi para wartawan yang hadir, pesan tersebut memiliki relevansi tersendiri. Dunia jurnalistik menuntut keberanian mengungkap fakta, keteguhan menjaga integritas, dan tanggung jawab menyampaikan informasi secara akurat kepada masyarakat.

Kebenaran bukan sekadar sesuatu yang diucapkan, tetapi harus diperjuangkan dengan kehati-hatian, bukti, dan tanggung jawab. Demikian pula kebaikan tidak cukup menjadi bahan pembicaraan, melainkan harus hadir dalam tindakan nyata.

Spiritualitas, pada akhirnya, bukan hanya tentang kedekatan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga tentang bagaimana ia memperlakukan sesamanya.

*Penglihatan Mata Batin dan Peringatan tentang Wabah*

Di tengah diskusi, Oscar Habeahan juga menyampaikan apa yang ia sebut sebagai penglihatan mata batinnya mengenai kemungkinan Indonesia menghadapi wabah yang lebih dahsyat daripada Covid-19.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu topik yang menarik perhatian dalam pertemuan itu. Oscar menyampaikan pandangannya sebagai bagian dari pengalaman spiritual yang ia yakini.

Meski demikian, pembicaraan tentang wabah membawa perhatian kembali pada pelajaran besar dari pandemi Covid-19: betapa rapuhnya kehidupan manusia ketika menghadapi ancaman kesehatan berskala luas.

Pandemi telah memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan, ilmu pengetahuan, sistem kesehatan yang kuat, komunikasi publik yang bertanggung jawab, serta solidaritas masyarakat merupakan unsur penting dalam menghadapi krisis.

Karena itu, terlepas dari keyakinan spiritual yang melatarbelakangi pernyataan Oscar, kewaspadaan terhadap ancaman kesehatan tetap perlu bertumpu pada informasi yang terverifikasi, rekomendasi tenaga kesehatan, dan langkah kesiapsiagaan yang rasional.

Peringatan tersebut juga menjadi ruang perenungan tentang keterbatasan manusia. Tidak semua hal dapat dipastikan, dan tidak semua kemungkinan dapat dikendalikan. Namun, manusia tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan, memperkuat kepedulian, dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan.

*Pusuk Buhit, Menutup Perjalanan dengan Doa*

Sabtu pagi (17/10/2026), James Tobing, Tubagus Adhi, Edison Siahaan, dan Dar Edi Yoga melanjutkan perjalanan menuju Pusuk Buhit, kawasan yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi dan kisah asal-usul masyarakat Batak.

Di sana, keempat wartawan berdoa bersama. Suasana alam yang tenang menjadi ruang untuk merenungkan kembali pesan-pesan yang mereka peroleh selama perjalanan.

Bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar kunjungan ke tempat-tempat bersejarah dan lokasi yang memiliki nilai spiritual. Ada kesempatan untuk mengambil jarak dari kesibukan, mendengarkan pandangan berbeda, dan menata kembali pemahaman tentang kehidupan.

Doa menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar manusia senantiasa diberi kebijaksanaan dalam menjalani tanggung jawabnya.

Perjalanan tersebut juga mempertemukan dua hal yang kerap berjalan berdampingan dalam kehidupan manusia, keyakinan dan tanggung jawab. Keyakinan memberi ruang bagi perenungan batin, sedangkan tanggung jawab menuntut setiap orang tetap berpijak pada kenyataan, menggunakan akal sehat, dan bertindak dengan bijaksana.

*Kebenaran dan Ketulusan sebagai Bekal Pulang*

Dari Partukkoan hingga Pusuk Buhit, perjalanan empat wartawan Jakarta itu menyisakan pesan yang lebih luas daripada pengalaman spiritual semata.

Keberanian mengatakan kebenaran, ketulusan membantu sesama, dan kesadaran akan keterbatasan manusia merupakan nilai yang relevan dalam kehidupan pribadi maupun pengabdian kepada masyarakat.

Pesan Oscar Habeahan tentang penglihatan mata batin mengenai wabah menjadi bagian dari perbincangan yang mereka temui. Sementara itu, ajakannya untuk membela kebenaran dan menolong tanpa pamrih menawarkan refleksi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, pada akhirnya, nilai sebuah perjalanan tidak hanya ditentukan oleh tempat yang didatangi atau pengalaman yang diceritakan setelah pulang. Nilainya juga terletak pada bagaimana pesan yang diperoleh diterjemahkan menjadi sikap dan tindakan.

Doa memberi manusia ruang untuk berharap. Kebenaran menuntut keberanian. Dan ketulusan mengajarkan bahwa hidup menjadi lebih bermakna ketika kehadiran kita membawa kebaikan bagi sesama.