Notification

×

Iklan

Iklan

Aksi Protes Tuntut Ketua KPU India Mundur Berlanjut, Pemimpin Gerakan 'Kecoa' Dibebaskan

Minggu, 11 Oktober 2026 | 18:30 WIB Last Updated 2026-10-11T11:30:49Z
Sejumlah demonstran diamankan petugas saat melakukan demo | net

Kabar Center 
NEW DELHI - Gelombang protes pemuda yang menuntut pengunduran diri Ketua Komisi Pemilihan Umum India masih berlanjut. New Delhi bersiap menghadapi hari kedua aksi pada Minggu (11/10/2026), setelah pengadilan memerintahkan pembebasan pendiri gerakan "kecoa", Abhijeet Dipke, dan dua pemimpin senior lainnya.

Dipke dan petinggi Cockroach Janta Party (CJP) ditahan saat pesawat mereka mendarat di Delhi pada Sabtu, ketika gerakan tersebut berencana mengumpulkan ribuan massa di Jantar Mantar, Delhi Pusat.

Pengadilan memerintahkan pembebasan mereka dengan jaminan demi "menjaga ketertiban umum".

Tak lama setelah bebas, kelompok itu menulis di akun X mereka: "Kecoa tidak pernah mati."

Gerakan pemuda ini menjadi salah satu tantangan politik terbesar bagi Perdana Menteri Narendra Modi selama 12 tahun berkuasa. Partai Bharatiya Janata Party (BJP) yang dipimpinnya selama ini selalu memenangkan pemilu dan menyingkirkan lawan-lawannya, termasuk Partai Kongres.

Para pengunjuk rasa mendesak Ketua KPU India Gyanesh Kumar mundur terkait revisi daftar pemilih yang menurut kritikus menguntungkan Modi secara tidak proporsional.

Protes sporadis telah terjadi di seluruh India sejak akhir September, setelah surat kabar Indian Express melaporkan dua wakil Kumar menyampaikan kekhawatiran internal soal revisi daftar pemilih, prosedur pendaftaran, dan sistem digital.

Komisi Pemilihan Umum menyatakan perbedaan pandangan adalah hal wajar dalam musyawarah internal dan membantah berpihak pada partai mana pun.

Data KPU India yang dikutip menyebut sekitar 130 juta nama telah dihapus dari daftar pemilih selama proses verifikasi, lebih banyak dari populasi Jepang. Rinciannya, 63 juta orang pindah tempat tinggal dan 30 juta orang tidak dapat dilacak.

BJP menuduh kelompok oposisi berupaya merusak demokrasi dengan mempertanyakan proses pemilihan yang sah.

BJP dan Komisi Pemilihan membantah tuduhan manipulasi, meski partai oposisi menilai pemilih Muslim dan minoritas lain yang cenderung tidak mendukung partai nasionalis Hindu, terdampak penghapusan secara tidak proporsional.

Tindakan Keras dan Penangkapan Massal

Pada Sabtu saja, lebih dari 2.000 aktivis ditahan, termasuk Ketua nasional All India Students' Association (AISA) yang berhaluan kiri. Sebagian besar dibebaskan pada Sabtu malam.

Aktivis dan influencer media sosial Dhruv Rathee yang memiliki lebih dari 33 juta pelanggan YouTube juga sempat ditahan dan dibebaskan setelah tengah malam.

"Saya tidak ditangkap atau ditahan, saya DICULIK," kata Rathee dalam unggahan di X.

Pada Minggu siang, aksi mulai mereda dengan beberapa lusin mahasiswa yang meneriakkan slogan mengecam Kumar dan polisi menahan beberapa di antaranya.

Meski stasiun metro sudah dibuka kembali dan layanan internet seluler kembali aktif setelah sempat dimatikan untuk menggagalkan protes hari Sabtu, ribuan personel polisi dan paramiliter masih dikerahkan di seluruh kota.

Setelah akses ke Jantar Mantar diblokir, sosok baru muncul yakni Neha Bora, yang menyerukan massa berkumpul kembali di Dilli Haat, pasar kerajinan yang berjarak 10 kilometer dari lokasi awal.

Kritik keras datang dari partai oposisi dan PBB. Oposisi mengecam penggunaan kekerasan berlebihan terhadap demonstran, sementara sebuah badan PBB menyerukan agar hak untuk berkumpul secara damai dihormati.

Kementerian Luar Negeri India menyebut pernyataan PBB tersebut sebagai "campur tangan yang tidak beralasan dalam urusan internal India."

Dalam sidang yang sangat padat pada Minggu, Mahkamah Agung mencatat jaminan pemerintah bahwa pengacara dan jurnalis tidak akan dihalangi saat bertugas. Pada Sabtu, sejumlah pengacara yang berdemo di luar Mahkamah Agung sempat ditahan, begitu juga beberapa wartawan termasuk jurnalis Reuters.

"Apakah seperti inilah cara kerja demokrasi? Mereka terus-menerus mencabut hak demi hak dan ini berubah menjadi kediktatoran," kata Abhita Ruheja, seorang demonstran yang ditahan pada Minggu, menggambarkan Delhi yang telah diubah menjadi benteng oleh aparat.

Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini