Notification

×

Iklan

Iklan

Luhut Dorong Lahirnya SDM Siber Lewat Riset dan HIDC 2026

Sabtu, 26 September 2026 | 13:00 WIB Last Updated 2026-09-26T06:00:52Z
Foto: istimewa 

Kabar Center 

Jakarta - Indonesia masih kekurangan tenaga ahli siber di tengah lonjakan ancaman. BSSN mencatat 1,52 miliar serangan siber terjadi pada 1 Januari - 15 April 2026.

Pendiri IT Del yang juga Ketua DEN, Luhut Binsar Pandjaitan, menilai ancaman siber dan kemajuan AI menuntut penyiapan SDM yang kompeten. IT Del pun fokus pada pengajaran AI dan keamanan siber.

"Ancaman keamanan siber semakin meningkat, sementara teknologi kecerdasan artifisial terus berkembang. Kita perlu fokus membangun sumber daya manusia yang memiliki kemampuan keamanan siber. IT Del juga memberi perhatian pada pengajaran kecerdasan artifisial agar generasi muda siap menghadapi perkembangan teknologi," ungkap Luhut, Sabtu (26/9/2026).

Untuk menjawab kebutuhan itu, Spentera Group menggelar grand final Hacktrace Independence Day Competition (HIDC) 2026 di IT Del, Balige. Babak penyisihan sejak 17 Agustus 2026 diikuti 410 peserta dari 136 tim, hingga tersisa 3 tim dengan 9 finalis di babak akhir. Peserta datang dari berbagai daerah dan luar negeri.

Co-Founder Spentera, Royke Lumban Tobing, menyebut kesenjangan kebutuhan dan ketersediaan talenta siber masih sangat besar.

"Kita membutuhkan jauh lebih banyak tenaga ahli keamanan siber yang beretika. Kebutuhan dan ketersediaan SDM kesenjangannya masih terlalu besar. Keamanan siber adalah bagian penting dari keamanan nasional. Menjaga keamanan siber berarti ikut menjaga kedaulatan nasional dan melindungi warga negara," ujar Royke.

Final HIDC mempertemukan tim Boys Who ChatGPT, Petir Pemecut Handal, dan HIB Hoshiyomis. Mereka diuji dalam 8 tahap, mulai dari pengamanan fisik seperti membuka gembok dan brankas, penggunaan SDR, hingga simulasi red team dan blue team. Total hadiah Rp170 juta.

"Harapan kami, peserta tidak berhenti sebagai pemenang kompetisi. Mereka bisa berkembang menjadi cyber security engineer yang mampu membangun keamanan cyber yang dibutuhkan perusahaan di Indonesia, bahkan negara, dan mampu bersaing di pasar global. Tak hanya itu, kami juga ingin kompetisi HIDC 2026 di Balige, Sumut, dapat mendorong distribusi talenta-talenta cyber security agar tidak hanya berpusat di Pulau Jawa. Semoga ke depan pasar global tidak lagi mencari talenta teknologi informasi ke India, tapi ke Indonesia," ungkap Royke.

Pemilihan IT Del sebagai tuan rumah sekaligus dirangkai dengan kerja sama riset, inovasi, dan magang bersama Spentera. Sebelumnya Spentera juga bekerja sama dengan UI dan UGM.

Rektor IT Del Prof. Arnaldo Marulitua Sinaga mengatakan kolaborasi ini penting untuk menjembatani kampus dengan kebutuhan industri.

"Upaya kita adalah membentuk talenta-talenta keamanan siber. Kita melihat pentingnya keamanan dalam bidang teknologi. IT Del juga ingin berkontribusi di bidang tersebut," ujar Arnaldo.

Salah satu finalis yang bekerja di perusahaan Rusia, Ahmad Zainuri, menilai di era AI ancaman siber makin tinggi.

"Di zaman AI ini memudahkan orang untuk melakukan hacking sehingga ancaman keamanan siber semakin tinggi. Maka, kebutuhan SDM yang memiliki kemampuan bertahan dari serangan siber sangat perlu," jelas Ahmad.

Senada, peserta yang bekerja di Singapura, Linuz Tri Eriyanto, menekankan pentingnya etika.

"White hat hacker, istilah untuk hacker yang menghormati etika, penting sekali untuk dibangun melalui lomba-lomba seperti ini, supaya para hacker muda tidak terjerumus dalam aksi-aksi yang merugikan," pungkasnya.

Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini