![]() |
| Sejumlah warga menyaksikan peluncuran rudal | abcnews |
Kabar Center
Samosir - Semenanjung Korea kembali memanas setelah Korea Utara meluncurkan dua proyektil dan satu di antaranya adalah rudal balistik ke perairan timur. Aksi militer Pyongyang ini muncul hanya beberapa hari setelah mereka kembali menegaskan status sebagai negara pemilik senjata nuklir.
"Militer kami mendeteksi sebuah rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Wonsan, Korea Utara, ke arah Laut Timur sekitar pukul 15.00 (06.00 GMT)," begitu pernyataan Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, dilansir AFP, Minggu (20/9/2026).
Berdasarkan keterangan militer Korea Selatan, peluncuran awal terjadi sekitar pukul 15.00 (06.00 GMT). Rudal tersebut dilepaskan dari kawasan dekat Kota Wonsan dan menempuh jarak kurang lebih 450 kilometer (280 mil) sebelum jatuh di Laut Timur atau yang dikenal dengan sebutan Laut Jepang.
Sementara untuk peluncuran kedua, belum ada penjelasan rinci. Kementerian Pertahanan Seoul baru mengonfirmasi kejadian tersebut tidak lama setelah pukul 18.00.
Manuver ini tercatat hanya berselang delapan hari dari aksi serupa, ketika Korut juga melepas beberapa rudal balistik jarak pendek ke Laut Timur. Saat itu, Pyongyang mengklaim kegiatan tersebut merupakan bagian dari latihan gabungan kekuatan tembak.
Aksi terbaru ini juga terjadi setelah Korut pekan ini menolak resolusi dari badan pengawas nuklir PBB yang mendesak penghentian program nuklir mereka.
Militer Korea Selatan kini meningkatkan pemantauan dan status siaga untuk mengantisipasi adanya peluncuran susulan. Di sisi lain, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang disebut intens berbagi data terkait peluncuran itu.
"Otoritas Korea Selatan dan AS sedang melakukan analisis mendalam untuk menentukan... spesifikasi pastinya," tambah pernyataan tersebut.
Dari pihak Jepang, Kantor Perdana Menteri juga membenarkan adanya peluncuran dari Korea Utara. Lewat platform X, Jepang menyebut proyektil itu diduga merupakan rudal balistik.
Kementerian Pertahanan Jepang kemudian melaporkan proyektil tersebut telah jatuh, namun tidak merinci lokasi jatuhnya.
Pemerintah Jepang menyampaikan protes keras kepada Korea Utara. Peluncuran itu dikecam sebagai ancaman bagi perdamaian dan stabilitas kawasan, seperti dilaporkan kantor berita Kyodo yang mengutip pernyataan resmi pemerintah.
Seoul Gelar Rapat Keamanan Darurat
Menyikapi situasi tersebut, Kantor Keamanan Nasional di lingkup kepresidenan Korea Selatan langsung menggelar rapat keamanan darurat. Pertemuan itu membahas langkah respons Seoul serta mengevaluasi dampak peluncuran terhadap keamanan nasional.
Seoul juga mendesak Pyongyang agar segera menghentikan peluncuran rudal balistik. Pemerintah Korsel menilai aksi penembakan itu sebagai tindakan serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini
