Notification

×

Iklan

Iklan

Uni Eropa Pasok Senjata ke Ukraina, Pejabatnya Dilarang Masuk ke Rusia

Kamis, 08 September 2022 | 12:51 WIB Last Updated 2022-10-09T12:33:16Z
Pasukan Cadangan Pertahanan Teritorial Ukraina ambil bagian dalam latihan militer di pinggiran Kyiv, Ukraina 29 Januari 2022. REUTERS/Valentyn Ogirenko

KABARCENTER.com

Para pejabat yang berasal dari Uni Eropa (UE) banyak tak diizinkan masuk ke Rusian. Hal ini lantaran Uni Eropa melakukan pasokan senjata ke Ukraina. Kemudian ada juga sanksi Brussel terhadap Moskow.

Melansir dari laman Xinhua, Kamis (8/9) pembatasan saat ini berlaku untuk perwira militer senior UE.

Pembatasan berlanjut ke pejabat tinggi dari lembaga penegak hukum negara-negara anggota UE serta perwakilan dari produsen senjata dan peralatan militer Eropa yang terlibat dalam pengiriman persenjataan ke Ukraina, kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.

Kendati demikian, pihaknya tidak menyebutkan daftar hitam atau mengungkapkan berapa banyak orang yang terkena sanksi.

"Kami ingin mengingatkan mereka yang memprakarsai tindakan terhadap Rusia bahwa kami tetap teguh dalam tekad kami agar tak tergoyahkan terhadap setiap tindakan tidak bersahabat yang ditargetkan terhadap Rusia," kata pernyataan itu.

Dalam kunjungan tersebut, ia berharap bahwa Jerman akan menjadi pihak terdepan yang membantu Kiev untuk membangun pertahanan udaranya, ketika ia mencari lebih banyak persenjataan berat untuk Kiev dari Berlin.

Sementara Channel News Asia, Senin (5/9/2022) menyebut Shmygal adalah pejabat tinggi pertama Ukraina yang mengunjungi Jerman dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini merupakan pertanda ketegangan antara Kiev dan Berlin telah mereda, setelah keduanya mengalami masa-masa sulit.

Kunjungan pertama dalam perjalanannya adalah pertemuan dengan Presiden Frank-Walter Steinmeier, di mana Shmygal "membahas situasi militer, memperkuat sanksi dan kebutuhan untuk menyediakan senjata bagi Ukraina," katanya di Twitter.

Tanggapan awal Jerman yang gagap dalam memberikan dukungan militer kepada Kiev setelah invasi Rusia ke Ukraina telah memicu kekhawatiran.

Namun Shmygal mengakui selama kunjungannya bahwa sejak itu Jerman secara signifikan meningkatkan bantuan militernya, dengan persenjataan berat seperti tank howitzer 2000 atau peluncur roket MARS yang semuanya " berfungsi dengan baik di medan pertempuran".

Tiba di Musim Gugur

Sistem pertahanan udara Iris-T diperkirakan akan dikirim pada musim gugur, katanya, menambahkan bahwa Ukraina "berharap bahwa Jerman akan menjadi salah satu pemimpin dalam proses pengembangan pertahanan udara Ukraina".

Dalam sebuah pidato tentang visinya untuk Eropa, Kanselir Olaf Scholz mengatakan bahwa dia melihat Jerman mengambil "tanggung jawab khusus" untuk membantu Ukraina membangun artileri dan sistem pertahanan udaranya.

Shmygal juga berterima kasih kepada Jerman "atas solidaritas dan dukungannya terhadap Ukraina".

Para menteri pertahanan sekutu NATO diperkirakan akan tiba di Jerman pada hari Kamis, 8 September untuk menghadiri pertemuan yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk mengkoordinasikan kebutuhan militer untuk Ukraina.

Menjelang pembicaraan tersebut, Scholz menegaskan kembali komitmen Jerman untuk membantu memperkuat Ukraina, tetapi menambahkan bahwa hal itu akan dilakukan dengan berkoordinasi dengan "teman dan sekutu kami".

Kunjungan pertama dalam perjalanannya ke Berlin adalah bertemu dengan Presiden Frank-Walter Steinmeier, Shmygal mengatakan dalam pertemuannya ia akan membahas terkait situasi militer, pengautan sanksi, dan kebutuhan persediaan senjata bagi Ukraina. Ia juga berterima kasih atas solidaritas Jerman dengan Ukraina, dan dukungannya.

Jerman akan "terus berdiri di sisi Ukraina," Steinmeier meyakinkan Shmygal, menurut Buru Bicara Presiden Jerman. Kunjungan perdana menteri Ukraina ini menandai hubungan Kiev-Jerman yang lebih baik, setelah terjadi perselisihan pada bulan April ketika Kiev menolak tawaran Steinmeier untuk melakukan perjalanan ke Ukraina.

Steinmeier, mantan Menteri Luar Negeri dari Partai Sosial Demokrat (SPD) dari Koalisi Olaf Scholz, sempat dikecam karena kebijakan detentnya selama bertahun-tahun terhadap Moskow—sesuatu yang diakuinya sebagai kesalahan setelah adanya perang.

Howitzer, peluncur roket, dan rudal anti-pesawat terbang merupakan beberapa senjata yang telah tiba di Kiev.

Senjata lainnya yang lebih berat seperti sistem anti-pesawat IRIS-T, peluncur roket yang dipasang pada pick-up dan peralatan anti-drone akan dikirimkan dalam paket bantuan militer tambahan senilai lebih dari 500 juta euro.

Saat ini, tentara Ukraina juga sedang dilatih  untuk menggunakan tank Leopard anti-pesawat di Jerman.

Dikutip dari The News, Shymgal mengatakan, bahwa dukungan persenjataan Jerman terhadap Ukraina telah membuat kemajuan yang besar. 

Tetapi, Perdana Menteri Ukraina juga menegaskan bahwa Kiev membutuhkan lebih banyak lagi dari Berlin, termasuk tank tempur modern seperti Leopard 2.

Dalam pidato terkait visinya untuk Eropa, Scholz mengatakan bahwa ia melihat Jerman telah mengambil tanggung jawab khusus, untuk membantu Ukraine membangun artileri dan sistem pertahanan udaranya. 

Jerman, akan mempertahankan dungungan untuk Ukraina selama diperlukan, katanya. 

Di tingkat kemanusiaan, Jerman telah menampung hampir satu juta pengungsi Ukraina, dengan sekitar 155.000 anak dari Ukraina terdaftar di sekolah-sekolah yang ada di Jerman.

Menjelang kedatangan Shmygal, Partai Hijau, Koalisi Scholz, mengatakan Jerman ingin meningkatkan pengiriman persenjataannya ke Ukraina. 

"Cara-cara militer tidak pernah membawa solusi, tetapi kadang-kadang menciptakan peluang di mana konflik akan dapat diselesaikan secara politis di dunia yang penuh aturan," kata pimpinan partai dalam sebuah mosi yang diajukan untuk dipertimbangkan pada kongres berikutnya. (Lp6/kc7)

Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini