Kisah Jenderal Hoegeng, Kapolri Yang Jujur dan Berhati Mulia

G.M
Kamis, 08 September 2022, 18:56 WIB Last Updated 2022-09-08T11:57:55Z

Masa tua Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Imam Santoso. (Media Indonesia)

KABARCENTER.com

JAKARTA - Jenderal Hoegeng adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) yang ke-5. Dalam riwayatnya, pria kelahiran 14 Oktober 1921 ini dikenal sebagai sosok polisi yang jujur dan memiliki karakter mulia. 

Semasa hidupnya, sebagaimana informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, Jenderal Hoegeng memiliki sederet kisah tentang kejujurannya yang menyentuh hati. 

Berikut beberapa di antaranya: 

1. Menolak Mobil Dinas untuk Keluarga 
Dikenal sebagai sosok yang sederhana, Jenderal Hoegeng pernah menolak pemberian mobil dinas. Singkat cerita, kala itu Hoegeng menjabat sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet. Status tersebut membuatnya mendapatkan jatah dua mobil, yaitu mobil untuk dinas sebagai menteri dan mobil untuk keluarga. 

Kemudian, setelah menjadi Wakapolri, dia kembali ditawari mobil dinas jenis Holden keluaran terbaru yang diperuntukan bagi keluarganya. Jenderal Hoegeng pun kembali menolaknya. Alasannya karena dia memiliki dua mobil dinas, yaitu jenis Jeep Willis dari Kepolisian dan mobil dinas sebagai Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet periode Maret 1966-Juli 1966.

"Hoegeng mau simpan di mana lagi ini, Mas Dharto? Hoegeng tak punya garasi lagi?" ucap Hoegeng saat beralasan ketika sekretarisnya Soedharto Martopoespito memberitahukan soal jatah mobil dinas untuk keluarganya, dikutip dari buku Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono, seperti dilansir sindonews, Kamis (08/09).

Namun, karena tetap harus diambil sesuai ketentuan Sekretariat Negara, Jenderal Hoegeng akhirnya mengalah. "Ya sudah, tetapi tolong disimpan di rumah Mas Dharto saja ya, suatu saat Hoegeng perlu, Hoegeng akan pinjam saja," kata Hoegeng.

2. Menolak Rayuan Pengusaha Cantik 
Dalam kariernya, Jenderal Hoegeng diketahui sering mengalami godaan suap. Salah satunya berasal dari seorang pengusaha cantik yang terlibat kasus penyelundupan. Saat itu, wanita tersebut mencoba merayunya agar kasus tersebut tidak dilanjutkan ke pengadilan. 

Selain rayuan, pengusaha cantik tersebut juga mengirim berbagai hadiah mewah ke tempatnya. Dalam hal ini, tentu saja Hoegeng menolaknya mentah-mentah dan mengembalikannya. Hoegeng pun sempat heran karena banyak koleganya di kepolisian dan kejaksaan memintanya untuk melepaskan pengusaha cantik itu. 

Dia semakin bingung lantaran mengapa begitu banyak pejabat yang berusaha menolong pengusaha wanita yang terlibat kasus tersebut. 

3. Membuang Barang Mewah Pemberian Bandar Judi 
Pada tahun 1956, Jenderal Hoegeng ditugaskan ke Medan, Sumatera Utara. Kala itu, kondisi Medan cukup banyak kasus kejahatan yang merajalela. Tugasnya pun cukup berat, karena aparat di sana telah banyak dibuat tak berkutik dengan godaan suap seperti uang, barang mewah, atau wanita sekalipun. 

Cerita soal intrik para bandar judi benar-benar terbukti. Saat Hoegeng baru mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya dan mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng sebagai hadiah dari para pengusaha. 

Jenderal Hoegeng menolaknya dengan halus dan lebih memilih tinggal di Hotel De Boer sembari menunggu sampai rumah dinasnya tersedia. Saat rumah dinasnya siap ditempati, Hoegeng terkejut karena rumah tersebut sudah penuh dengan barang-barang mewah. 

Terdapat kulkas, piano, hingga sofa mahal yang saat itu bahkan belum ada di rumah pejabat sekelas menteri. Usut punya usut, ternyata barang tersebut merupakan pemberian dari para bandar judi. 

Mengetahui hal ini, Hoegeng langsung meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. Hingga waktu yang ditentukan, utusan bandar judi itu tidak juga memindahkan barang-barang mewah tersebut. Hoegeng memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya diletakkan begitu saja di depan rumah. (Kc6/sindonews)

Komentar

Tampilkan

Terkini

PERISTIWA

SOSIAL

+