Notification

×

Iklan

Iklan

Jelang COP-4 Minamata, KLHK Edukasi Masyarakat Bahaya Merkuri

Kamis, 09 September 2021 | 22:13 WIB Last Updated 2021-09-23T06:01:20Z

Kabar Center

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP), menggelar diskusi "Merkuri: Musuh Dalam Selimut," yang digelar secara daring (9/9).

Pada awal diskusi, Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya @rosavivienratnawati menerangkan bahwa kegiatan yang dilangsungkan adalah sebagai edukasi masyarakat akan bahaya merkuri. 

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian sosialisasi The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4) Konvensi Minamata Mengenai Merkuri yang akan dilangsungkan di Bali, dengan Indonesia sebagai Tuan Rumah. 

Sudah tahu belum kalau kalian bisa terpapar merkuri dengan terhirup udara yang terkontaminasi? Bisa juga dengan mengonsumsi pangan yang terkontaminasi serta penyerapan melalui kulit.
 
Bahayanya banyak! Merkuri bisa menyebabkan gangguan pencernaan, pernafasan, kulit dan ginjal.

Dampak dari terpapar merkuri pada kulit antara lain jerawat meradang, alergi wajah, iritasi kulit hingga kanker kulit, efek merkuri dalam kadar sedikitpun, sangat berbahaya. 

Pada dosis tinggi, merkuri dapat menyebabkan kerusakanan permanen pada otak, ginjal, gangguan perkembangan janin serta kerusakan paru-paru.

Di mana saja min Merkuri dapat ditemukan? 

Dalam produk maskara, kutek dan pembersih riasan mata, yang menggunakan merkuri sebagai bahan pengawet. Mengutip data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), produk kosmetik ilegal di Indonesia, nilai transaksinya mencapai Rp 10 miliar.

Lalu hal-hal apa saja min harus diperhatikan untuk menghindari produk mengandung merkuri?

Yaitu dengan mengecek izin dari BPOM langsung ke website, kemudian memerhatikan petunjuk penggunaannya tidak jelas, serta keterangan bahan yang ditulis dalam bahasa asing.

Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini