Program Porlak Rakyat Serehwangi di Huta Dolok Hasinggaan, Warga Sampaikan Terimakasih Kepada Ketum PPTSB

G.M
Sabtu, 23 Januari 2021, 10:08 WIB Last Updated 2021-01-23T03:08:30Z

Kabar Center - Samosir

Betapa hahagia dan terharunya Warga Huta Dolok Hasinggaan, mendengar Ketua Umum (Ketum) PPTSB Indonesia Mangihut Sinaga, SH., MH., menyatakan keinginannya untuk membantu pemberdayaan perekonomian mereka. Menurut mereka, sebagai warga huta, baru kali ini ada seseorang yang menyatakan keinginan yang demikian.

“Terlepas beliau turunan Op. Toga Sinaga dan kami yang bermukim di Huta Dolok ini juga turunan Op. Toga Sinaga, yang jelas belum ada seorang pun yang berhasil di perantauan menyatakan hal yang demikian,” ujar Junggal Simanjorang, saat hal tersebut diklarifikasi kepadanya. 

“Saya memang tidak mendengar langsung tentang hal itu dari amang Mangihut Sinaga. Tetapi kesan saya ketika beberapa kali bertemu, beliau adalah adalah orang yang memiliki komitmen,” lanjut mantan Sintua Katolik Hasinggaan ini.

Terkendala Covid19

Keinginan Ketum PPTSB Mangihut Sinaga ini ikut memberdayakan perekonomian warga Samosir mau pun warga KDT, sebenarnya sudah sejak tahun 2019 dia nyatakan. Hal itu mengemuka saat kunjungannya ke beberapa desa terpencil yang ada di Samosir, seperti Desa Hasinggaan. Saat kunjungannya ke Desa Hasinggaan tahun 2019, Mangihut Sinaga mendengar langsung dari warga tentang belum masuknya jaringan penerangan listrik. Dan yang lebih menyentuh hatinya adalah mengenai belum adanya akses jalan darat.

“Saya tidak bisa bayangkan apa yang terjadi terhadap warga desa ini bila ada urusan penting seperti orang sakit, sementara terjadi  angin kencang yang membuat kapal tidak bisa berlayar,” ujar mantan Wakajati Sumut dan Kajati Sulut ini, tatkala dia memberi tanggapan atas curhat warga Desa Hasinggaan sekitar Desember 2019 yang lalu.

Tentang niatnya untuk mewujudkan ikut membantu perekonomian warga Desa Hasinggaan, kembali dia ingatkan kepada Tumpal Simanjorang, saat bertemu di Jakarta pada bulan Februari 2020. 

Mengenai itu, Tumpal sendiri menyatakan kesiapannya dengan memberikan sebuah konsep kegiatan pertanian dengan parwisata. Sayang, saat hal itu akan dimulai, Pandemi Covid19 datang menghambat rencana yang telah disepakati.

Porlak Rakyat KDT

Sebagaimana yang disebutkan Tumpal Simanjorang bahwa konsep kegiatan yang digunakan dalam pemberdayaan perekonomian warga adalah “Porlak Rakyat KDT”. 

Menurutnya, kegiatan ini adalah perpaduan kegiatan pertanian dan parwisata. Dengan kata lain, Porlak Rakyat adalah Agrowisata. Karena kegiatan ini dilakukan di KDT (Kawasan Danau Toba-Red!), maka disebutlah dia “Porlak Rakyat KDT”.

Keterangan lebih lanjut yang disampaikan, agar kegiatan ini menarik minat warga, maka unsur manfaat ekonomi jangka pendek menjadi hal yang utama menjadi pertimbangan. Terhadap ini, maka tanaman yang dibudidayakan nantinya, dalam jangka pendek harus dapat memberi manfaat ekonomi. Untuk tanaman ini, Tumpal sudah memiliki rencana yang akan dibudidayakan, yaitu tanaman Serehwangi.

Menindaklanjuti hal tersebut, Kabar Center kemudian melakukan pengamatan langsung terhadap tanaman ini pada sebuah usaha yang ada di Desa Sijambur Ronggur Nihuta, Samosir, milik Tomu Raja Tamba. 

Dari amatan itu, didapat keterangan bahwa dari 1 ha kebun Serehwangi akan dapat menghasilkan 200 kg minyak Serehwangi. Dengan asumsi harga saat ini Rp. 150.000,- untuk 1 kg, maka sekali panen akan memberi hasil ekonomi sebesar Rp. 30.000.000,- Dengan perkiraan 1 tahun bisa panen 4 kali, maka 1 ha kebun Serehwangi akan mengahsilkan Rp. 120.000.000,-

“Betul itu. Hasilnya sekitar Rp. 120.000.000,- pertahun,” kata Tomu Raja Tamba, yang telah menjalankan usaha ini sejak tahun 2017.

Misi Pemberdayaan Lahan Terlantar

Pemilihan tanaman Serehwangi sebagai tanaman budidaya “Porlak Rakyat KDT”, selain memiliki manfaat ekonomi jangka pendek, juga tidak lepas dari manfaat konservasi. 

Menurut Tomu Raja Tamba, akar Serehwangi yang rimbun, sangat cocok menahan tanah  dari erosi. “Terutama pada kawasan yang memiliki kemiringan dan rawan longsor, akar Serehwangi ini sangat cocok sebagai penahan,” ujar Tomu Raja Tamba, yang juga telah mulai usaha memasarkan minyak Serehwanginya dalam kemasan botol-botol kecil.

Mengingat KDT lebih separuhnya memiliki kontur lahan berbukit, maka tanaman Serehwangi ini sangat cocok menjadi tanaman konservasi. Tidak hanya itu, lebih jauh kata Tomu Raja, disamping perawatan Serehwangi tidak susah berbagai jenis ternak pun tidak tertarik untuk mengganggunya.

“Tanaman Serehwangi ini dijamin tidak akan dimakan ternak seperti kerbau atau sapi. Juga akarnya tidak diminati oleh babi hutan,” ungkap Tomu Raja, yang memiliki jasa dalam pemberdayaan bidang budidaya tanaman.

Dari manfaat ekonomi jangka pendeknya dan juga kateristik tanamannya yang relative gampang perawatannya, wajarlah orang seperti Tumpal Simanjorang menjadikan tanaman ini dalam rencana pembuatan “Porlak Rakyat KDT-nya”.

“Benar. Dan atas hal itu, saya optimis bahwa program pemberdayaan lahan terlantar KDT, khususnya Samosir optimis terlaksana,” imbuhnya.

Namun sayang, rencana tersebut kembali akan molor dikarenakan masih belum teratasinya Pandemi Covid19. Namun demikian, Tumpal Simanjorang tetap optimis bahwa kegiatan akan terlaksana.

“Doakan saja, mudah-mudahan bulan Februari depan sudah dapat dimulai,” pungkas Tumpal Simajorang. (MS/KC)


Baca juga:

Komentar

Tampilkan

Terkini

PERISTIWA