Ternyata Ini Rahasia Citarasa Minuman Tuak

Kabar Center
Rabu, 19 Februari 2020, 15:04 WIB Last Updated 2020-02-23T06:29:05Z
Tuak salah satu minuman kas batak toba | dok. Kabar Center
Kabar Center - Pangururan 

Tuak merupakan minuman khas suku batak yang cukup digemari di berbagai wilayah khususnya Sumatera Utara. Dibalik aroma dan rasanya yang khas, ternyata ada racikan yang khusus dari masing-masing paragat tuak.

"Semua tuak (Air Nira-red) itu sama jika diambil dari pohonnya. Tetapi untuk masalah rasa tergantung cara meracik dari masing-masing paragatnya," kata Pak Darwiston Sitanggang ketika berbincang bincang dengan kabarcenter.com, Selasa (18/02/2020) di kedainya di Lumban Godang, Desa Saitnihuta Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

Lebih lanjut, minuman rendah alkohol itu sejak zaman dahulu telah dikonsumsi banyak orang, khususnya orang batak. Dirinya mengaku, menjual tuak menjadi salah satu mata pencaharian keluarganya.

"Tuak yang baik dan enak pasti disukai. Jadi sebagai paragat dan juga menjual tuak, tentu saya akan berusaha memberikan rasa tuak yang nikmat bagi para pelanggan," ujarnya.

Tuak murni yang langsung diambil dari pohonnya kata Pak Darwiston Sitanggang memiliki rasa yang sangat manis. Sehingga lanjut pria yang juga bekerja sebagai petani ini, perlu dilakukan sedikit racikan dengan mencampurkannya dengan kayu raru yang berkualitas.

"Di situ sebenarnya rasa dari tuak ini. Kayu raru yang baik akan menghasilkan rasa tuak yang baik juga. Rasa pahit sepatnya bercampur dengan rasa manis menghasilkan rasa khas tuak," tuturnya.

Terpisah, salah seorang pelanggan dan juga penikmat Tuak Pio Simbolon mengakui jika tuak yang nikmat itu memiliki rasa manis bercampur pahit sepat.

Menurutnya keunggulan tuak terletak pada kemampuan peraciknya. Selain itu mutu dari kayu raru juga menjadi salah satu faktor utama dari rasa yang diberikan tuak.

"Racikan kayu raru dicampur air nira bisa kita rasakan ketika kita minum. Nanti terlihat keserasiannya. Kemudian minuman tuak yang baik itu akan kita ketahui esok hari setelah kita bangun tidur," pungkas Pio kepada kabarcenter.com, Rabu (19/02) di Pangururan.

Informasi yang dihimpun, kayu raru yang dicampur dengan tuak disebut sebut sebagai obat diabetes (gula). Meski belum ada penelitian terkait hal itu, namun rasa pahit yang dihasilkan dipercaya mampu mengatasi diabetes. (KC2)
Komentar

Tampilkan

Terkini

KOLOM PENULIS

SOSIAL

+