Notification

×

Iklan

Iklan

WHO Klaim Uji Klinis Vaksin COVID-19 China Berhasil

Jumat, 25 September 2020 | 15:31 WIB Last Updated 2020-09-25T08:31:42Z
Ilustrasi

Kabar Center - Jakarta

Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengatakan uji klinis beberapa vaksin Corona COVID-19 buatan China berhasil. Maka dari itu, WHO akan memastikan akses atau pembagian vaksin COVID-19 secara merata ke seluruh negara di dunia.

Menurut WHO, ketersediaan vaksin COVID-19 diyakini bisa menjadi salah satu cara tercepat mengakhiri pandemi Corona. Selain itu, adanya vaksin COVID-19 bisa mempercepat pemulihan ekonomi di seluruh negara.

"Vaksin China dapat membantu mewujudkan tujuan itu dalam waktu dekat karena beberapa vaksin telah terbukti berhasil dalam uji klinis," kata Soumya Swaminathan, kepala ilmuwan di WHO, Senin, dikutip dari CNTG News.

China memiliki beberapa vaksin COVID-19 yang tengah dikembangkan. Salah satunya Sinovac, perusahaan tersebut mengumumkan vaksin CoronaVac siap didistribusikan dan disuntikkan kepada masyarakat awal 2021.

Dikutip dari CNBC, pendistribusian vaksin COVID-19 termasuk ke Amerika Serikat (AS). CEO SinoVac, Yin Weidong, juga berjanji mengajukan permohonan izin ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk menjual CoronaVac di AS.

"Pada awalnya, strategi kami dirancang untuk China dan Wuhan. Segera setelah itu pada Juni dan Juli kami menyesuaikan strategi kami, yaitu menghadapi dunia," katanya.

Ada dua tahap distribusi vaksin yang rencananya akan dipelajari dan dinilai dengan cermat terlebih dahulu. Tahap pertama, vaksin akan didistribusikan secara proporsional. Artinya, setiap negara yang tergabung dalam COVID-19 Vaccines Global Access Facility (Covax) akan mendapat dosis vaksin untuk 3-20 persen dari total populasi.

Jika nyatanya pasokan vaksin masih terbatas, maka akan dialihkan ke metode alokasi yakni rencana tahap kedua. Dalam tahap ini, Covax akan mempertimbangkan tingkat risiko dari setiap negara, selanjutnya akan mengirimkan lebih banyak dosis vaksin ke negara-negara dengan risiko tinggi tersebut. (Dtc)

Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini