-->

Situasi Pandemi Virus Corona, Warga Samosir Kesal Ada Tanah Berceceran di Atas Jalan

G.M
Senin, 06 April 2020, 20:47 WIB Last Updated 2020-06-26T10:04:18Z
Tanah berceceran di atas Jalan Nasional Kabupaten Samosir | ist

Kabar Center - Samosir

Pasca pembangunan jalan ring road Samosir secara khusus di sekitar Pangururan terlihat jalanan menjadi bersih dan enak dipandang mata.

Namun tidak demikian dalam seminggu terakhir, jalanan bersih ini menjadi sangat jorok dan berdebu, karena truk yang sedang mengangkat tanah dari pengorekan tano ponggol yang sedang dikerjakan PT. BRP (Basuki Rahmanta Putra) ini membiarkan tanah berceceran ke jalan sehingga menjadi jorok dan ketika panas hari menjadi debu yang menimbulkan polusi diperumahan warga.

Karena merasa dirugikan, beberapa warga melakukan aksi penutupan di jalan Sianjurmula, Kelurahan Pasar Pangururan bagi truk tersebut. Tidak kehilangan akal, para supir truk tersebut mengambil jalan berputar dengan melintas dari depan rumah dinas sehingga memperpanjang jalan yang jorok akibat bercecerannya tanah dari truk tanpa tenda penutup tersebut.

"Disekitar Tajur Kelurahan Pasar Pangururan sampai Hutatinggi terjadi ceceran tanah dan abu yang begitu dahsyat, kami sudah minta untuk truk ditendai teryata tidak," kata salah seorang warga Obin Naibaho.

Obin Naibaho dan juga Ketua FKTM Samosir ini bersama warga pun melakukan penutupan jalan di jalan Sianjur Mula, Pasar Pangururan. 

"Kita terpaksa tutup jalan Sianjurmula, karena sudah becek dan berabu semua di situ, lucunya mereka justru berputar dari rumah dinas bupati, ibukotanya Samosir ini loh," tambah Obin Naibaho.

Menurutnya, warga meminta Pemkab Samosir dan PT. BRP serta pengusaha truk untuk menghentikan polusi di tengah pemukiman warga ini.

Hal yang sama disampaikan seorang warga Mak Riski Boru Pasaribu yang tinggal dan berjualan disekitar jalan Sianjurmulamula, Kelurahan Pasar Pangururan, Samosir.

"Becek kali terus jalan disini dan kalau sudah kering dan panas langsung berabu. Abunya lengket ke jualan kami dan rumah kami pun penuh debu" keluh Boru Pasaribu.

Akibat polusi debu ini, dia dan keluarganya jadi terkena penyakit sesak nafas dan batuk. "Kita berharap ada upaya untuk menjaga kesehatan warga disekitar inilah," tambahnya.

Polusi debu ini juga dikeluhkan seorang jurnalis yang sedang melakukan peliputan di lapangan.

"Bagaimana kita bisa mengatasi COVID-19 ini jika tidak saling bekerjasama. Tanah timbunan yang berjatuhan di atas jalan ini tentu akan mengering sehingga berabu. Seharusnya semua elemen saling menjaga kebersihan,  Sedih awak lihatnya," kata pewarta itu.

Ketika hal tersebut dikonfirmasi kepada PT.BRP melalui Manager Proyek Dedi Sidabutar, mengaku sudah memerintahkan untuk seluruh truk ditendai ketika membawa tanah timbunan.

"Kita sudah suruh buat tenda setiap truk dan melakukan pembersihan jalanan pakai tanki air," ucapnya.

Terkait warga yang mengalami sesak dan batuk disekitar tempat pengorekan tanah yang dilalui puluhan truk proyek setiap harinya, Dedi berjanji akan perintahkan anggotanya melihat ke lapangan. "Kita akan minta bagian K3 untuk cek ke lapangan karena itu divisi mereka," pungkas Dedi Sidabutar.

Sementara itu, di lokasi yang lain seorang warga berharap agar persoalan ini cepat ditindaklanjuti pihak terkait.

"Jangan pula karena gara gara ini jadi batuk dan flu. Kemudian lantaran batuk dan flu jadi dibilang pula kami ODP," sebut seorang warga kesal. (Kc8)
Komentar

Tampilkan

Terkini

KOLOM PENULIS