Notification

×

Iklan

Iklan

Meracik Kopi Premium Vulkanik Samosir di 'Huta Natarulang'

Selasa, 20 Juni 2023 | 08:31 WIB Last Updated 2023-06-20T01:31:45Z
Produk Kopi Pardosir

Kabar Center

Kopi Pardosir semakin dikenal. Hal ini pasti erat kaitananya dengan citarasa yang dimilikinya. Sejalan dengan itu, nama Parbaba Dolok, kawasan dimana Pardosir 'dilahirkan', juga ikut terdongkrak ikut dikenal. 

Tak terkecuali dengan nama huta "Lumban Sinaga', yang ada pada Kawasan Parbaba Dolok. Padahal, huta itu dulunya sudah 'sempat' senyap karena ditinggalkan oleh penghuninya, pergi ketempat lain, yang dianggap lebih memiliki prospektif.

Adalah Marulam Sinaga, salah satu turunan pendiri huta, yang mengembalikan aktivitas huta kembali normal.

"Betul, huta ini sempat mengalami terhenti aktivitas karena ditinggal penghuninya. Termasuk saya, yang juga meninggalkan huta ini pindah ke daerah lain," ujar Marulam Sinaga kepada penulis beberapa tahun lalu saat berkunjung bersama seorang rekannya marga Rumapea. 

Saat kunjungan itu, istri Marulam Sinaga sengaja menyiapkan manuk napinadar sebagai lauk makan siang. Keputusan Marulam Sinaga untuk menetap kembali di huta yang didirikan leluhurnya tentu tidak semata alasan tanah leluhur.

Sebab apalah artinya tanah leluhur tetapi tidak dapat memberikan kehidupan? Terhadap hal itu dibenarkan oleh Marulam.

"Tanah ini pernah memberi kehidupan kepada para pendahulu saya. Kenapa tanah yang sama tidak memberi hasil yang sama?", katanya seraya bertanya. 

Rupanya, pengalaman hidup di negeri orang, telah memberi pengetahuan kepada Marulam bahwa dimana pun tanah dipijak, Tuhan sudah menyiapakan rezeki di dalamnya. Tinggal bagaimana orang yang menempatinya dapat mengolah dan memanfaatkan sumber rezeki itu. 

Mengenai itu, Marulam Sinaga sangat yakin dan percaya diri betul. Dan sebagaimana yang dilihat penulis bersama rekannya marga Rumapea ketika berkunjung, tanda-tanda rezeki yang disiapkan oleh tuhan itu, sudah tersedia di sekitar perkampungan yang sebelumnya henti aktivitas.

"Apa yang telah disediakan Tuhan di tanah yang sekarang kami diami ini, ternyata benar," ujar Marulam yang sesekali pembicaraan harus terputus karena 'gangguan' telepon. 

Kemudian hasil rezeki yang berbentuk biji-biji kopi yang sebagian telah siap digongseng menjadi bubuk kopi. Pilih kopi kelas premium biji-biji kopi adalah bentuk rezeki yang diperolehnya.

Pilihannya mendapatkan rezeki dalam bentuk biji-biji kopi bukanlah hasil dari sebuah proses instan. Menurut pengakuannya, pilihan itu dilakukannya dari sebuah rangkaian pemikiran yang panjang untuk menghasilkan hal bermanfaat. 

Namun demikian, pemikiran untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat tidak akan pernah tercapai bila tidak ada komitmen untuk mewujudkannya dan itu cukup dipahami Marulam Sinaga.

"Sebaik apa pun konsep usaha, tidak akan pernah punya arti bila tidak ada komitmen untuk mewujudkannya," ujarnya.

Saat Marulam memutuskan kembali ke tanah kelahirannya Huta Lumban Sinaga, itu adalah bagian dari komitmennya. Karena sudah dikomitmenkan, maka batu karang sekali pun yang menghalangi, sudah tidak punya arti apa-apa untuk melangkahkan kaki. 

Dibenak Marulam Sinaga sudah menggumpal keinginan untuk mewujudkan produk kopi premium dari tanah Vulkanik Samosir.

Tanah Vulkanik Samosir telah menjadi pembakar motivasi Marulam Sinaga untuk menghasilkan Kopi Premium. 

Pengetahuan itu dia dapat dari ketidaksengajaan membawa satu artikel, dimana disebutkan di dalammya mengenai usaha kedai kopi dengan penyajian spesial. Ditambah tanah kelahirannya memenuhi syarat untuk menghasilkan jenis kopi yang dimaksud, pari purnalah niatnya kembali ke kampung halaman. 

Sudah Memiliki Sertifikat IG Indikasi Geografis atau disingkat IG adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan.

Dengan adanya IG berarti dapat diketahui nama wilayah geografis negara, daerah, atau tempat asal suatu produk, berdasarkan kualitas dan sifat khusus lingkungan geografis, termasuk faktor alam dan faktor manusianya. 

Untuk itu, Kopi Pardosir telah memilikinya. Adanya IG ini, lagi-lagi sebagai bukti dari komitmen Marulam Sinaga untuk adanya Kopi Premium dengan Citarasa Vulkanik Samosir. 

Sebab dalam IG yang ada itu akan sangat membantu dalam proses pemasarannya.

"Benar sekali itu. Adanya IG sangat membantu dalam proses pemasaran. Dengan menyebut 'Pardosir sudah memiliki IG', kita tidak perlu lagi bersusah-susah menjelaskan baik kepada pelanggan pribadi mau pun pelanggan agensi, mengenai spesifikasi kopinya," ujar Marulam Sinaga menyampaikan testimoninya. 

Kopi Wine dan Kopi Rasa Vodka Komitmen Marulam Sinaga untuk menghasilkan Kopi Premium Vulkanik Samosir pelan dan pasti sudah membuahkan hasil. 

Selain telah melayani berbagai pesanan, baik dalam bentuk green bean maupun bubuk, dia juga telah mengoperasikan sebuah Coffee Shop di Simpang Perkantoran Pemkab Samosir, Desa Siopat Sosor Parbaba. 

Walau mungkin masih jauh dari keinginannya mengenai tampilannya, yang jelas dia sangat enjoy terhadap apa yang dicapainya saat ini. Karena dengan adanya Coffee Shop itu, berbagai hal kreativitasnya muncul. 

Kreativitas itu terbukti dengan munculnya dua varian kopi rasa wine (anggur) dan vodka. Namun kedua varian ini belum dapat dipasarkan mengingat regulasi yang harus dipenuhi. 

Order dari Milan dengan Harga Wou Dalam satu perbincangan di sebuah Group WA, dimana Marulam Sinaga ikut sebagai membernya, kopi Pardosir pernah mendapat orderan dari Milan. 

Order itu disampaikan kepada seorang member lain. Walau kuantitas ordernya tidak banyak, tapi harganya wou. Nilai perkilonya lebih 15 kali lipat dari harga di pasaran. 

Harga yang 'wou' tadi itu bukanlah dari Marulam Sinaga. Tetapi harga yang dibuat oleh pembeli dari Milan itu. Mengenai harga yang dibuat pembeli dari Milan itu adalah sebuah pengakuan dari kreativitas. 

Tentu ini menjadi kepusaan tersendiri bagi orang-orang yang bergerak dalam industri ekonomi kreatif, yang di Samosir jumlahnya masih minim. 

Terlepas dari harga wou dari Milan itu, dan juga atas capaian yang diraih Kopi Pardosir, Marulam Sinaga sebagai prinsipal merasa gundah terhadap nasib Ekonomi Kreatif Samosir di masa datang. Apalagi hal itu dikaitkan dengan Program Destinasi Superprioritas, dimana sasarannya adalah pembuatan 'Bali Baru'.

Samosir sebagai bagian dari program itu, apakah kelak hanya sebgai penonton? Terhadap itu, dia terus berharap agar pemangku kepentingan Danau Toba, khususnya Samosir agar benar-benar serius menyikapinya. 

"Bila situasinya seperti saat ini, saya yakin harga lokal Samosir hanya sebatas penonton terhadap pembangunan. Para pelakunya adalah para pendatang," katanya.

Merindukan Asterius di Huta Natarulang keberhasilan Kopi Padosir seperti saat ini, tidak lepas dari jasa beberapa orang dalam memberi kontribusi. Hal itu tidak ditampik oleh Marulam Sinaga. Dari bebarapa nama itu, ada satu nama yang tidak bisa dilupakannya, yaitu Ir. Asterius Sinaga. 

"Tanpa Pak Asterius Sinaga, saya yakin berbagai program dari Kementerian Pertanian tidak akan pernah mampir ke Parbaba Dolok," ungkap Marulam Sinaga. 

Asaterius Sinaga sudah beberapa tahun ini pensiun dari Kementarian Pertanian. "Kalau ketemu bapak itu, kirim salamlah," lanjut Marulam seraya menyampaikan agar berkenan mengujungi Lumban Sinaga. 

Ya, Huta Lumban Sinaga yang dulu tarulang dan sekarang sudah menjadi sentra Kopi Premium Vulkanik Samosir. (Paul Manjo Sinaga)

Ikuti berita terkini dari Kabar Center di Google News, klik di sini