Kembangkan Perajin Tenun Berbasis Dalihan Na Tolu, Rytha Tambunan: Warisan Budaya

G.M
Selasa, 07 Desember 2021, 08:30 WIB Last Updated 2021-12-12T06:55:43Z


KABARCENTER.com

Dosen Antropologi Dra. Rytha Tambunan merupakan sosok yang dikenal memahami budaya warisan para leluhur batak terdahulu. Meski cukup paham, pengajar Antropologi Kesenian di USU ini masih terus menggali peninggalan budaya batak untuk dikembangkan dan dilestarikan. Salah satunya Ulos Batak.

Dra. Rytha Tambunan, M.Si dan Dra. Mariana Makmur serta beberapa mahasiswa Antropologi Sosial, FISIP, Universitas Sumatera Utara, melakukan pengabdian masyarakat tentang Pengembangan Perajin Tenun Berbasis Kekerabatan Dalihan Na Tolu di Kampung Ulos Silahisabungan, Desa Silalahi I, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi.

"Kain tenun tradisional Indonesia mempunyai nilai budaya tinggi, terutama dari aspek  estetika dan ragam motif. Kain tenun tradisional memiliki nilai filosofi dari aspek fungsinya, oleh karena itu merupakan warisan budaya yang perlu dipertahankan," kata Rytha beberapa.waktu lalu.

Menurutnya, kain tenun tradisional seperti Ulos Silalahi adalah atribut budaya, yakni sebagai kain adat sepanjang lingkaran hidup (life cycle) masyarakat Batak Toba.

"Berdasarkan data dari Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tahun 2009, di Sumatra Utara Secara umum penenun kain tenun tradisional regenerasi penenunnya mengalami kemunduran," ungkapnya.

Dari pengamatan, keahlian menenun dan  membuat ragam hias (motifnya), serta minat kaum muda untuk mempelajari bertenun mengalami kemunduran sehingga perlu ada upaya untuk  ditingkatkan kembali.

Bukan hanya itu, menurutnya regenerasi perajin tenun yang terhambat dan kurang diminati para remaja putri. 

"Solusinya membuat pelatihan bertenun untuk remaja putri dengan memotivasi dan mengedukasi bahwa bertenun bisa menjadi ketrampilan sekaligus mata pencaharian," jelasnya.

Akan tetapi yang jadi kendala menurutnya adalah kebutuhan bahan baku seperti benang yang dimiliki toke dan kekurangan modal untuk bertenun. 

"Solusinya, sosialisasi agar perajin bekerja sama untuk mendapatkan bahan baku benang lebih mudah dan murah," ujarnya.

Selain masalah kebutuhan bahan, Rytha mengungkap, para penenun juga masih menggunakan pemasaran dengan sistem yang tradisional sehingga tidak adanyan jaringan yang luas.  

"Solusinya, mengedukasi perajin/ penenun untuk belajar memasarkan kain tenun ulos berbasis online agar harga akhir kain tenun ulos sesuai dengan jerih para para penenun," imbuhnya.

Kemudian, usaha konkrit lainnya untuk dilakukan adalah dengan melaksanakan berbagai pelatihan bertenun serta mempromosikan kain tenun tradisional di berbagai tempat pariwisata. Dengan demikian pengembangan perajin kain tenun ulos diharapkan mengalami regenerasi. 

"Orang Batak sebagai pemilik warisan budaya ini haruslah mempertahankan dan mengembangkan warisan budaya ini sekaligus untuk peningkatan ekonomi perajin," sebut Rytha.

Pengembangan dan regenerasi perajin kain tenun ulos di Kampung Ulos Silalahi di desa Silalahi 1 dapat dilakukan dengan menguatkan solidaritas  kekerabatan dalihan na tolu.

"Pola yang mungkin dilakukan adalah  dengan memotivasi dan mengedukasi para remaja putri agar mau meneruskan ketrampilan bertenun kain ulos untuk peningkatan pendapatan ekonomi keluarga," tambahnya.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat  ini, dirinya berharap dapat memotivasi dan mengajak seluruh perajin dan kekerabatan Dalihan Na Tolu di desa Silalahi 1 untuk dapat berpartisipati dalam pengembangan kain tenun tradisional ulos. 

Karena menurutnya pengembangan itu bisa dilakukan dengan penguatan komunitas perajin berbasis kekerabatan marga dan struktur sosial Dalihan Na Tolu, karena mereka tinggal dalam satu desa ber-marga.

"Pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan dapat memulai pelatihan menenun agar regenerasi perajin/penenun terjadi sehingga kain tenun Ulos Silalahi dapat dipertahankan sebagai warisan budaya yang berharga," katanya. 

Pengembangan perajin tenun berbasis kekerabatan Dalihan Na Tolu ini akan berpengaruh terhadap bahan baku dan harga pemasaran hasil tenun, sehingga pendapatan perajin tenun Ulos Silalahi juga meningkat. 

"Pola pengembangan pertenunan di Silalahi 1 juga bisa dilakukan dengan sistem 'Bapak Angkat' oleh Keturunan marga Silahisabungan sehingga para penenun bisa ditingkatkan pendapatannya," pungkasnya.

Komentar

Tampilkan

Terkini

PERISTIWA

SOSIAL

+