‘Merayu’ IKA FE UNPAR Ikut Mengembangkan Porlak Rakyat KDT

G.M
Rabu, 27 Januari 2021, 18:14 WIB Last Updated 2021-01-27T11:14:49Z
Ketua Alumni FE Unpar Bandung Fransiskus Antonius Alijoyo diapit teman sesama alumni seangkatannya: Suyanto (kiri) dan Paul Manjo Sinaga (kanan), pada satu pertemuan di Dago Herritage Bandung. (Foto: Dok TPS)

Kabar Center - Bandung

Ketua Alumni FE Universitas Katolik Parahyangan  Bandung Dr. Fransiskus Antonius Alijoyo bertemu dengan Tumpal Simanjorang dan Suyanto di Kawasan Dago Heriitage Bandung.

Dua nama yang disebut terakhir, sebagaimana disampaikan kepada wartawan media ini, adalah teman satu angkatan di fakultas yang sana dari sang ketua alumni.

Menurut Tumpal Simanjorang atau yang dikenal dengan Paul Manjo Sinaga, mengatakan, selain sebagai ajang melepas rindu sesama kawan kuliah setelah tidak bertemu hampir 40 tahun, ajang ini juga dimanfaatkan untuk sumbang pemikiran terkait kegiatan yang akan dilakukan alumninya. 

Dan untuk itu dirinya berharap agar alumninya mau melakukan kegiatannya pada KDT, khususnya Samosir. Memang, sesuai penuturan Paul Manjo, sebelumnya telah ada pembicaraan awal tentang hal tersebut.
   
Materi pembicaraan diantara mereka bertiga pada hari itu, berfokus kepada kegiatan yang akan dilakukan di KDT, sehubungan dengan keinginan pemerintah pusat menjadikan KDT (Kawasan Danau Toba-Red!) menjadi ‘Bali Baru’. 

Paul Manjo lalu menyampaikan pemikirannya dalam bentuk pelestarian lingkungan, dengan pola agrowisata’. Dalam Bahasa lokal, disebut “Porlak”. Agar kegiatan itu ‘memiliki’ gairah, kata dia, dimasukkanlah unsur manfaat ekonomi selain manfaat konservasi. 

‘Bali Baru’

Memang terjadi pro-kontra terhadap ‘Bali Baru’ ini. Terlepas dari terjadinya pro-kontra tentang  makna  ‘Bali Baru’, yang jelas pemerintah pusat telah menggelontorkan dananya dengan tajuk “Program Super Prioritas KDT menjadi Destinasi Wisata Utama”. 

Bagi Paul Manjo, tidak ada persoalan dan tidak mau ikut terjebak dalam pro kontra itu. Yang penting baginya adalah kegiatan itu bermanfaat dan dijalankan dengan mengacu kepada nilai-nilai masyarakat KDT yang kental dengan komunalitasnya. 

“Selama proses pembangunan ‘Bali Baru’ itu memberi manfaat dan dilakukan sejalan dengan nilai-nilai Dalihan Natolu, rasanya tidak ada yang perlu dipersoalkan,” kata Paul Manjo.

Perlu diketahui bersama, masyarakat KDT itu diikat dalam satu tatanan nilai Dalihan Natolu dengan basis pada huta. 

Inti dari nilai-nilai ini adalah adanya hubungan kekerabatan berdasarkan hubungan geneologis. Menurut Paul Manjo, tidak ada masalah bila ‘Bali Baru’ disandingkan dengan Masyarakat Dalihan Natolu bila dilakukan dengan mengacu kepada nilai-nilai tadi itu. “Bali Baru dengan nilai-nilai Dalihan Natolu, apa salahnya bukan?” ujarnya.
     
Berbasis Komunal

Pengembangan KDT menjadi ‘Bali Baru’, dengan fakta adanya masyarakat komunal, adalah hal yang tidak mungkin dinafikan. Bila itu dilakukan, maka prosesnya diyakini tidak akan berjalan sebagaiamana yang diharapkan. 

Menurut Paul, akan banyak persoalan yang akan dihadapi bila fakta terhadap masyarakat komunal itu diabaikan.

“Apalagi hubungan kekerabatan tidak hanya sesama orang. Sebab hubungan ‘kekerabatan’ itu juga antara masyarakat dengan lahan yang ada di sekitar pemukiman warga yang disebut huta,” ujarnya. 

Memang, bagi masyarakat KDT, yang tinggal di dalam satu komunitas yang disebut huta, lahan yang ada disekitar huta mereka itu adalah juga adalah milik mereka.

Namun demikian, terkait lahan warga itu, dari pengamatan Paul Manjo tidak pernah tertutup untuk dimanfaatkan. 

Hal itu dikatakan oleh Alumni FE Unpar tahun 82 tersebut karena sejalan dengan nilai-nilai budaya masyarakat yang ada. “Sepanjang lahan-lahan yang ada tersebut digunakan untuk kemaslahatan bersama, siapa saja boleh menggunakan. Yang penting hal itu dilakukan sesuai syarat dan ketentuan yang ada," ujarnya.

Untuk itu, andai kelak IKA UNPAR ingin ikut dalam proses pembuatan ‘Bali Baru’ ini, haruslah mengacu kepada nilai-nilai masyarakat lokal. Dan tidak perlu kawatir dengan ekonomis, selain manfaat konservasi lingkungan tentunya.

Kemitraan dan Nilai-nilai UNPAR

Dari yang disampaikan Paul Manjo, Antonius yang baru saja terpilih menjadi ketua alumni fakultasnya ini, yang sebelum pertemuan itu sudah menunjukkan ketertarikannya terlihat semakin tertarik. Itu terlihat dari diajaknya Suyanto untuk ikut berkontribusi.

Namun ada yang perlu digaris bawahi dari sikap Anton terhadap lahan milik warga KDT agar tetap dipertahankan. 

“Terlepas tentang tindak lanjut wacana kegiatan ini, sebaiknya lahan milik warga tidak beralih kepemilikannya,” ujar Alumni FE 82 Unpar yang memiliki pengalaman memimpin beberapa perusahaan ternama di Indoensia. 

Pendapat Anton yang demikian senada dengan keinginan Paul Manjo.

Hal lain yang menjadi kesamaan pandangan antara Paul Manjo dengan Anton adalah bentuk kegiatan yang dilakukan, yaitu pola kemitaran berbentuk Inti-Plasma. Dan pola kemitraan itu semakin diperkuat dengan nilai-nilai dasar almamater mereka Unpar: ‘silih asuh’, ‘silih asah’ dan ‘silih asih’.

“Betul. Kita sepakat dengan pola kemitraan itu dengan bingkai atau spirit ‘silih asuh’, ‘silih asah’ dan ‘silih asih’,” pungkas Paul Manjo. (MS/KC)
Komentar

Tampilkan

Terkini

PERISTIWA

SOSIAL

+