Transgender Mira Dibakar Hidup-hidup, Aktivis: Kami Tuntut Keadilan

Jusri M
Selasa, 07 April 2020, 17:19 WIB Last Updated 2020-04-07T10:19:12Z
Ilustrasi

Kabar Center - Jakarta

Sandya Institute mengecam kekerasan terhadap transgender Mira yang dilakukan preman setempat pada Sabtu, 4 April 2020. Mira dibakar hidup-hidup di Cilincing, Jakarta Utara. Meski Mira sempat dibawa ke RS Koja tapi dinyatakan meninggal keesokan harinya.

Sandya Institute pun menuntut keadilan bagi Mira. "Kami seluruh organisasi Sandya Institute mengecam kejadian ini dan menuntut keadilan sepenuhnya bagi Mira. Waria dan transpuan sering menjadi korban kekerasan, baik oleh masyarakat sekitar ataupun aparat," sebut pihak Sandya Institute dalam keterangan pers seperti mengutip detikcom, Selasa (7/4/2020).

Pada peristiwa itu, Mira meninggal di ruang ICU RS Koja setelah mengalami luka bakar.

Kekerasan terhadap Mira ini terjadi di tengah-tengah wabah COVID-19, sehingga menambah tekanan terhadap kaum waria. Sandya Institute sendiri menyoroti sejumlah kasus kekerasan terhadap kaum LGBT selama 2006-2018.

"Menurut laporan 12 tahun persekusi Arus Pelangi, dari tahun 2006-2018 telah terjadi 1.850 kasus persekusi," ungkapnya.

Seperti diketahui, pada tahun 2011, 8 waria di Taman Lawang menjadi korban penembakan. Sampai saat ini, pelaku belum terungkap dan belum ada kejelasan dari aparat penegak hukum.

Sandya Institute pun menuntut beberapa hal terkait kekerasan terhadap kaum LGBT yakni:

1. Penangkapan dan penahanan 3 oknum preman yang belum ditemukan.
2. Penyelidikan yang lengkap dan transparan kepada publik, terutama komunitas LGBTIQ.
3. Pengadilan pidana yang adil, transparan dan berperspektif korban yang telah secara sistematis ditindas oleh masyarakat, negara dan sistem hukum Indonesia.
4. Pemerintah untuk melakukan upaya-upaya pemulihan bagi komunitas transpuan lainnya. (kc7/dtc)
Komentar

Tampilkan

Terkini

KOLOM PENULIS