Pesta Tahta Santo Petrus: Mengabdi Dan Melayani

Kabar Center
Minggu, 23 Februari 2020, 11:22 WIB Last Updated 2020-02-23T04:22:39Z
Sumber foto: Karismatik Katolik
Kabar Center

Manusia-manusia zaman sekarang senantiasa berlomba-lomba dalam pergumulannya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi dalam masyarakat.

Mereka tidak pernah puas dengan apa yang ada: ingin lebih dari pada yang sekarang. Mereka berjuang untuk terus menerus naik, mulai dari tingkatan yang paling rendah menuju ke tingkatan yang paling tinggi.

Jabatan,  pangkat atau tahta itulah cita-cita dan harapan yang mereka perjuangkan guna memberi arti dan makna atas perjalanan hidup dan karya mereka.  Tahta yang mereka kejar lebih dipandang sebagai pangkat dan kuasa untuk memperoleh harta bagi kepentingan pribadi dan kelompok.

Hari ini pesta Tahta Santo Petrus, Rasul. Tahta Suci,  "sancta sedes", memiliki kepemilikan penuh,  kekuasaan ekslusif, dan yurisdiksi serta otoritas yang berdaulat atas Negara Kota Vatikan, Roma,  sejak 11 februari 1929 melalui Perjanjian Lateran antara Tahta Suci dan Italia pada zaman Paus Pius XI dan Benito Mussolini.

Jauh sebelum perjanjian Lateran ini, Petrus tampak sebagai juru bicara bagi kelompok dua belas rasul dan mengakui Yesus sebagai Mesias,  Anak Allah yang hidup.

Pengakuan iman Petrus dilihat sebagai wahyu dari Allah yang mendatangkan berkat resmi baginya. Petrus menerima primat atau otoritas ilahi dari Yesus untuk menggembalakan domba-domba, untuk melayani dan bukan untuk dilayani, untuk mengampuni dan bukan untuk menghakimi,  serta siap sedia menyerahkan nyawa bagi kawanan domba penggembalaannya.

Tahta Santo Petrus adalah primat kepemimpinan untuk melayani,  bukan untuk mencari popularitas pribadi dan tidak mengumpulkan harta-harta duniawi.

Sakramen permandian memberikan kita "primat" untuk berpartisipasi dalam tugas Kristus sebagai imam,  nabi dan raja.

Primat untuk mengabdi dan melayani, bukan untuk menguasai dan mengejar kehormatan diri,  bukan untuk berlomba-lomba mengumpulkan harta duniawi yang akan dirusakkan ngengat.

Kita adalah penjala-penjala Allah untuk membangun persekutuan berdasarkan kasih kepada Allah dan sesama manusia. (Rel)
Komentar

Tampilkan

Terkini

KOLOM PENULIS