Ini Sederet Pemicu Aksi Teror Sepekan Terakhir Menurut BIN

G.M
Kamis, 01 April 2021, 11:47 WIB Last Updated 2021-04-01T04:47:46Z
Jurubicara BIN Wawan Hari Purwanto

Kabar Center - Jakarta

Salah satu pemicu aksi terorisme yang terjadi dalam waktu sepekan ini adalah rasa sakit hati akibat tindakan aparat terhadap kelompok terorisme.

"Pemicu terjadinya teror atau teroris banyak, di antaranya keliru pemahaman tentang agama atau ideologi, keliru dalam mencerna persoalan, dan ada juga masalah ekonomi. Jika terjadi penindakan oleh aparat, lantas timbul sakit hati dan ingin balas, apalagi jika mereka beranggapan ada ketidakadilan dalam masyarakat," sebut jubir BIN Wawan Hari Purwanto kepada wartawan, Kamis (1/4/2021).

BIN menyampaikan, rendahnya pemahaman nilai agama juga menjadi pemicu. Para pelaku teror, menurutnya, salah dalam memahami makna jihad.

"Terkait kasus teror sepekan terakhir, pemicunya adalah rendahnya pemahaman terhadap nilai-nilai agama sehingga salah dalam menafsirkannya, akhirnya mudah dipengaruhi dan didoktrin. Selain itu, adanya pemahaman makna jihad yang sempit, bahwa jihad dengan melakukan aksi kekerasan berupa bom bunuh diri atau amaliyah akan mati syahid dan masuk surga," katanya.

"Menurut mereka, waktu yang tepat untuk amaliyah adalah menjelang Ramadhan dan targetnya kelompok yang dinilainya kafir. Hal ini bisa dilihat dari wasiat yang mereka tinggalkan untuk keluarga dan orang terdekatnya. Ini yang harus kita luruskan melalui literasi publik bersama seluruh elemen masyarakat," tambah Wawan.

Masyarakat diimbau agar tetap waspada terhadap doktrin-doktrin yang keliru. BIN juga mengingatkan para orang tua mengawasi anaknya terkait hal ini, mengingat generasi muda atau milenial menjadi kelompok rentan dalam ajaran radikalisme.

"Saya mengimbau masyarakat agar waspada dan tidak mudah menerima ajaran dan doktrin yang keliru tentang nilai-nilai agama. Orang tua agar mengawasi anaknya. Jika ada perilaku yang aneh, segera dibimbing dan diingatkan supaya terhindar dari pengaruh ajaran yang mengarah ke aksi terorisme. Tidak ada agama yang mengajarkan teror," katanya.

Diketahui, bom bunuh diri terjadi di depan gedung Katedral Makassar pada Minggu (29/3). Polri mengatakan sampai saat ini sudah menangkap 23 terduga teroris. Dari 23 orang yang ditangkap, 13 orang berkaitan dengan bom bunuh diri di Makassar.

"Sampai hari ini terkait pengungkapan bom yang kita lakukan kejadian bom di Makassar sampai hari ini sudah kita amankan 13 orang," sebut Kapolri Jenderal Listyo Sigit dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/3/2021).

Kemudian, belum sepekan terlewat, serangan teror terjadi lagi di Mabes Polri. Kali ini dilakukan lone wolf oleh seorang perempuan bernama Zakiah Aini. (dtc/kc5)
Komentar

Tampilkan

Terkini

PERISTIWA

SOSIAL

+